ketidakabadian itu
melesak mendesak
pada benak
menyita hampirhampir
separuh nafas
pada tubuh semakin rapuh
bagai persetubuhan hari
saat malam menyerah
di ufuk pagi
malam pun terkulai
tanpa bercak jejak
hanya lenguh suarasuara
terpendam sebelum akhirnya
binasa
Lamongan, 22 Desember 2007
Wednesday, December 26, 2007
Hymne Katak
entah harus kukata apa
dalam kelam pun kau
tetap bersuarat
tak tahu merayakan apa
mungkin menyambut deras hujan
yang baru saja tiba
genangi kolam kering tlah
beberapa waktu
di sekitar rumpun bambu
mungkin juga mentertawai kami
para manusia!
berkeluh kisah tiada habisnya
atas segala yang sempat tiba
dalam yang terpikirkan
entah yang datang atau yang hilang
dalam hidup dan kehidupan
Lamongan, 21 Desember 2007
dalam kelam pun kau
tetap bersuarat
tak tahu merayakan apa
mungkin menyambut deras hujan
yang baru saja tiba
genangi kolam kering tlah
beberapa waktu
di sekitar rumpun bambu
mungkin juga mentertawai kami
para manusia!
berkeluh kisah tiada habisnya
atas segala yang sempat tiba
dalam yang terpikirkan
entah yang datang atau yang hilang
dalam hidup dan kehidupan
Lamongan, 21 Desember 2007
Reinkarnasi
telah terumpah merah darah
di halamanhalaman ladang pembantaian
birahi kebinatangan
pada setiap musim dimana kalender berganti
mengiringi gema suarasuara
membesarkan yang tlah maha besar
tapi, entahlah
apakah sukmamu reinkarnasi
lalu, terperangkap dalam sekujur
tubuh kami
hingga kami tetap saja
berkatakata dengan bahasa hatimu
melangkah dengan kakimu
menatap dengan matamu
mendengar dengan telingamu
dan makan pun dengan caramu
Lamongan, 21 Desember 2007
di halamanhalaman ladang pembantaian
birahi kebinatangan
pada setiap musim dimana kalender berganti
mengiringi gema suarasuara
membesarkan yang tlah maha besar
tapi, entahlah
apakah sukmamu reinkarnasi
lalu, terperangkap dalam sekujur
tubuh kami
hingga kami tetap saja
berkatakata dengan bahasa hatimu
melangkah dengan kakimu
menatap dengan matamu
mendengar dengan telingamu
dan makan pun dengan caramu
Lamongan, 21 Desember 2007
Karena Hamba Kotor
karena hamba kotor, maka
hamba pun takut
melintaskan harap
dalam igauan pun dalam kesadaran
sebagai Musa yang terkapar
di Bukit Tursina
lalu, tak lagi kenal siapa belahan jiwa
dalam harihari penuh seruan menghamba
seperti Muhammad
dalam gigil dan cemas tertutup
selimut keras
dalam harihari tak menampakkan diri
para penggenggam bara cahaya!
karena hamba kotor, maka
hamba hanya menyebutnyebut
lirih namaMu
yang tak pernah membuat dadaku
tergetar dalam
tangis terjungkal
Kota Pudak, 19 Desember 2007
hamba pun takut
melintaskan harap
dalam igauan pun dalam kesadaran
sebagai Musa yang terkapar
di Bukit Tursina
lalu, tak lagi kenal siapa belahan jiwa
dalam harihari penuh seruan menghamba
seperti Muhammad
dalam gigil dan cemas tertutup
selimut keras
dalam harihari tak menampakkan diri
para penggenggam bara cahaya!
karena hamba kotor, maka
hamba hanya menyebutnyebut
lirih namaMu
yang tak pernah membuat dadaku
tergetar dalam
tangis terjungkal
Kota Pudak, 19 Desember 2007
Friday, December 14, 2007
MoDe DeMo
: para pejuang hak-hak sewajarnya
menjelajahi almanak
dari januari sampai
terlahirnya kembali
mengeja harihari
dimana suarasuara selalu menjadi luka
yang nganga
kami butuh sesuatu
sesuatu yang dapat menutup nganga luka
yang berdarah dan bernanah
sejak itu langkahlangkah kami mulai
menuju tempat dimana janjijanji
diurai. sembuhkan ini luka
harihari adalah liris jerit suarasuara
sampai pekak mereka telinga
sampai serak mereka bicara
bila janjijanji hanyalah komodi
menuju kursi
hanya ada satu cara: Teriakkan!
perjuangkan dijalanjalan
dalam satu arah satu barisan
menuju kemenangan
Kota Pudak, 14 Desember 2007
menjelajahi almanak
dari januari sampai
terlahirnya kembali
mengeja harihari
dimana suarasuara selalu menjadi luka
yang nganga
kami butuh sesuatu
sesuatu yang dapat menutup nganga luka
yang berdarah dan bernanah
sejak itu langkahlangkah kami mulai
menuju tempat dimana janjijanji
diurai. sembuhkan ini luka
harihari adalah liris jerit suarasuara
sampai pekak mereka telinga
sampai serak mereka bicara
bila janjijanji hanyalah komodi
menuju kursi
hanya ada satu cara: Teriakkan!
perjuangkan dijalanjalan
dalam satu arah satu barisan
menuju kemenangan
Kota Pudak, 14 Desember 2007
Hati Puisi
: HAH
kujelajahi kamar mayamu, Pengrajin!
hampirhampir tanpa jeda
dan tanpa pertanda
lalu, kupunguti saja
serakan telor emas katakata
menetas dari anus imajimu yang kembara
ku kemas rapi di kantong memori
siapa tahu suatu saat: aku pun terpilih setelah terpanggil
sebagai pengrajin syair
ku bersejingkat menatap
dinding sketsa dan lantai imaji kamarmu
ku temui juga
potret dan suarasuara
lelaki bertampang garang
bermata nyalang
berdeklamasi lantang
orangorangan sawah, kah?
perangkap penangkap, kah?
suara penghalau burung, kah?
HAH, bukan
kerna sekelibat kutatap
dadamu memancar puisi
Kota Pudak, 14 Desember 2007
Notes:
Sajak ini juga dapat diakses di kamar maya Penyair HASAN ASPAHANI
http://sejuta-puisi.blogspot.com/2007/12/sajak-zawawi-hatimu-puisi-hah.html
kujelajahi kamar mayamu, Pengrajin!
hampirhampir tanpa jeda
dan tanpa pertanda
lalu, kupunguti saja
serakan telor emas katakata
menetas dari anus imajimu yang kembara
ku kemas rapi di kantong memori
siapa tahu suatu saat: aku pun terpilih setelah terpanggil
sebagai pengrajin syair
ku bersejingkat menatap
dinding sketsa dan lantai imaji kamarmu
ku temui juga
potret dan suarasuara
lelaki bertampang garang
bermata nyalang
berdeklamasi lantang
orangorangan sawah, kah?
perangkap penangkap, kah?
suara penghalau burung, kah?
HAH, bukan
kerna sekelibat kutatap
dadamu memancar puisi
Kota Pudak, 14 Desember 2007
Notes:
Sajak ini juga dapat diakses di kamar maya Penyair HASAN ASPAHANI
http://sejuta-puisi.blogspot.com/2007/12/sajak-zawawi-hatimu-puisi-hah.html
Kotahatiku Membeku
gemuruh gempa luruhkan kota
di pagi buta dimana embunembun turun
selimuti fajar dan daundaun
semestinya
taman bebunga ditengahtengahnya
porakporanda
bening telaga disudut kota
keruh berlumur lumpur
gedunggedung tegak kokoh
menyisakan puingpuing
gemuruh suarasuara di balik dada
lumpuhkan kotahatiku
kota yang ramah
hati yang indah
kelu membeku
ngilu membisu tinggal
bercak jejak
genangan kelam
hingga aku
jatuh berpeluh
menyerah mengarah
pada badai takdirMu
yang sedu
Kota Pudak, 14 Desember 2007
di pagi buta dimana embunembun turun
selimuti fajar dan daundaun
semestinya
taman bebunga ditengahtengahnya
porakporanda
bening telaga disudut kota
keruh berlumur lumpur
gedunggedung tegak kokoh
menyisakan puingpuing
gemuruh suarasuara di balik dada
lumpuhkan kotahatiku
kota yang ramah
hati yang indah
kelu membeku
ngilu membisu tinggal
bercak jejak
genangan kelam
hingga aku
jatuh berpeluh
menyerah mengarah
pada badai takdirMu
yang sedu
Kota Pudak, 14 Desember 2007
Wednesday, December 12, 2007
Permisi
aku hanya singgahi matramu
menapak di jalan liku
tak hendak mengharubiru
karena hanya satu
kutuju
sebagaimana kusinggahi mayapada
terperangkap sukma pada sekujur
tubuh khalifah
sebagai media. menggapaiNya dalam
nganga luka
goyah lemah
tatih langkah
bila di matramu
media sesama sebagai sekutu
bagimu sekutumu
karena
bagiku tujuanku
hanya tertuju
satu
Kota Pudak, 12 Desember 2007
menapak di jalan liku
tak hendak mengharubiru
karena hanya satu
kutuju
sebagaimana kusinggahi mayapada
terperangkap sukma pada sekujur
tubuh khalifah
sebagai media. menggapaiNya dalam
nganga luka
goyah lemah
tatih langkah
bila di matramu
media sesama sebagai sekutu
bagimu sekutumu
karena
bagiku tujuanku
hanya tertuju
satu
Kota Pudak, 12 Desember 2007
Lowongan
: perburuan
dicari
penjual ayatayat dan doa mantra
dijamin mulia
karena kami para kuasa berada
Kota Pudak, 12 Desember 2007
dicari
penjual ayatayat dan doa mantra
dijamin mulia
karena kami para kuasa berada
Kota Pudak, 12 Desember 2007
Matahati Telaga
kenapa engkau ingin mengeja kita
bukankah jihad yang utama adalah
menukik dan menyelam ke dalam
dasar samudra kesunyian diri. mengaca
agar biasbias embun di matahatimu
telaga
Kota Pudak, 11 Desember 2007
bukankah jihad yang utama adalah
menukik dan menyelam ke dalam
dasar samudra kesunyian diri. mengaca
agar biasbias embun di matahatimu
telaga
Kota Pudak, 11 Desember 2007
Thursday, December 6, 2007
Listrik Rakyat
dasar!
tarifmu kerap kau tinggikan
di antara reruntuhan penghasilan
katamu disesuaikan
di riuhrendah senyap jeritan
tetapi di tinggimu itu
aku tak mengerti, ah kenapa
wajahmu tetap nyalapadam
semestinya wajah kami
merahpadam
memunguti sejumput kata dalam
pejam
kerap kau buat kami
berlonjak berteriak
ketika dalam pejam tibatiba seperti
terbuka mata
ternyata hanya guraumu saja
karena kami harus membakar lilin
lebih lama
Kota Pudak, 6 Desember 2007
tarifmu kerap kau tinggikan
di antara reruntuhan penghasilan
katamu disesuaikan
di riuhrendah senyap jeritan
tetapi di tinggimu itu
aku tak mengerti, ah kenapa
wajahmu tetap nyalapadam
semestinya wajah kami
merahpadam
memunguti sejumput kata dalam
pejam
kerap kau buat kami
berlonjak berteriak
ketika dalam pejam tibatiba seperti
terbuka mata
ternyata hanya guraumu saja
karena kami harus membakar lilin
lebih lama
Kota Pudak, 6 Desember 2007
Subscribe to:
Posts (Atom)
Sepetak Sajak
Kau tidak menyebut nama-Ku
kau menyebut namamu
(Gatoloco, Asmaradana, Goenawan Mohammad)----
aku ingin mencintamu dengan membabi buta-
dengan sebotol racun yang diteguk Romeo
tanpa sangsi yang membuat kematiannya jadi puisi
aku ingin kau mencintaiku dengan membabi buta
dengan sebilah belati yang ditikamkan Juliet
ke dada sendiri yang membuatnya jadi abadi
(Aku Ingin, Autobiografi, Saut Situmorang)