malam di pelataran
bertabur cahya gemintang berpendar ceria
bulan sabit cerah menampakkan rupa
laksana sang raja menitahkan jelata rakyatnya
malam di pelataran
kepak sayap dua ekor burung melintas diatas kepala
berputar bersuara seperti memberi sebuah pertanda
malam di pelataran
larut dalam derai tawa
mengkaji diri dalam permainan sandiwara
hanyut di canda ria
menoleh di getir pahit perjalanan dari sepi ke sepi
mengaduk ironi
ada yang tersisa disudut ruang hati
sendu pilu mengingatmu
berjuang diruang penantian
Kota Pudak, malam-malam bersama kawan kedanyang 20 Juli 2007
Friday, July 20, 2007
Thursday, July 19, 2007
Berpaling
nikmat Mu adalah sukaku
duka Mu adalah makiku
pujiku pada Mu
saat rembulan purnama
Tuban, babad pekat 1992
duka Mu adalah makiku
pujiku pada Mu
saat rembulan purnama
Tuban, babad pekat 1992
Ayah 1
(Tragedi Jumat Legi/Sabtu Pahing, 13 Juli 2007, 17.00 Wib)
tegas kata, keras nada
tak kenal takut
hadapi saja siapa
gigih juang tegar jiwa
menoreh jejak
menghantar kemuliaan para putra
isak sesak siapa
kini merindumu bertegas dan berkeras sedia kala
titik rintik siapa
kini melukismu bergigih dan bertegar serupa
desah susah siapa
mengenangkanmu tetap berkarya di senja usia
sedu pilu siapa
mengangankanmu tetap bersama bercengkerama
tergolek tak berdaya
berbalut pembebat memerah kesumba
terbaring tak bersuara
menghirup oksigen tertutup mata
tatkala jiwa menuai realita
oh... sang penuntun jiwa
betapa syafaat Mu terdambakan selalu
dalam s'gala kehendak Mu
RSUD Bojonegoro, 16-18 Juli 2007
tegas kata, keras nada
tak kenal takut
hadapi saja siapa
gigih juang tegar jiwa
menoreh jejak
menghantar kemuliaan para putra
isak sesak siapa
kini merindumu bertegas dan berkeras sedia kala
titik rintik siapa
kini melukismu bergigih dan bertegar serupa
desah susah siapa
mengenangkanmu tetap berkarya di senja usia
sedu pilu siapa
mengangankanmu tetap bersama bercengkerama
tergolek tak berdaya
berbalut pembebat memerah kesumba
terbaring tak bersuara
menghirup oksigen tertutup mata
tatkala jiwa menuai realita
oh... sang penuntun jiwa
betapa syafaat Mu terdambakan selalu
dalam s'gala kehendak Mu
RSUD Bojonegoro, 16-18 Juli 2007
Friday, July 13, 2007
Pencarian 3
bertudung di pengap putih kafan
malam – malam tersungkur di hamparan
mengeja Mu dari A sampai H
dalam duduk diam tawaruk
oh... sang pemandu cahaya jiwa
gelap silam engkau hadirkan
dalam pilu sesak sedu sedan sesalan
oh...sang penuntun lunak lembut jelita sukma
jalan terjal mendaki engkau paparkan
melalui diri dalam tuntunan
mengenalku mengenal Mu
berpadu satu dalam kerelaan
Kota Pudak, 13 Juli 2007
malam – malam tersungkur di hamparan
mengeja Mu dari A sampai H
dalam duduk diam tawaruk
oh... sang pemandu cahaya jiwa
gelap silam engkau hadirkan
dalam pilu sesak sedu sedan sesalan
oh...sang penuntun lunak lembut jelita sukma
jalan terjal mendaki engkau paparkan
melalui diri dalam tuntunan
mengenalku mengenal Mu
berpadu satu dalam kerelaan
Kota Pudak, 13 Juli 2007
Friday, July 6, 2007
Pencarian 2
episod kelam kehidupan
di ranah zaman keangkuhan
murka sang rama jelma rahwana raja
kar'na shinta terpagut suratan
meronta-ronta di ujung malam
rama-rahwana dalam penyatuan
telusuri lorong pekat tak bercahaya
merindu damai dengan sang nasib
Kota Pudak, 6 Juli 2007
di ranah zaman keangkuhan
murka sang rama jelma rahwana raja
kar'na shinta terpagut suratan
meronta-ronta di ujung malam
rama-rahwana dalam penyatuan
telusuri lorong pekat tak bercahaya
merindu damai dengan sang nasib
Kota Pudak, 6 Juli 2007
Thursday, July 5, 2007
Pencarian 1
gelap pekat menuai hasrat
diketiadaberdayaan raga dan jiwa
mengais sepi di kesendirian
merindu nurani
masihkah didalam sini
Kota Pudak, 5 Juli 2007, 15.10 Wib
diketiadaberdayaan raga dan jiwa
mengais sepi di kesendirian
merindu nurani
masihkah didalam sini
Kota Pudak, 5 Juli 2007, 15.10 Wib
Teman Tidur
hari ini
kubaca
dengan nada tak begitu gembira
syair kang Epri bercerita
”susu sekarang sudah semakin dewasa
ia sudah pandai memilih jalannya sendiridan
tak lagi begitu suka diatur-atur
bahkan penguasapun dibuatnya berkata
"Itu di luar kami punya kuasa(*"
kemarin sore
kulihat di tivi
seorang bapak ditangkap polisi
kar’na mencuri
tak ada uang
tuk beli susu sapi
buat si bayi
beberapa malam lalu
kulihat di layar gelas
ketua perkumpulan pengusaha berkelas
menaikkan harga susu
smakin meranggas
jauh dari tunas
oh baby boy ku
terngiang slalu ditelingaku
jelang tidur kau menyela
Yah, mik cucu!
oh baby boy ku
haruskah
kami turunkan (lagi)
beberapa derajat
kualitas teman tidur mu
hantarkanmu mimpi-mimpi indah
didunia suci kanakmu
Kota Pudak, 5 Juli 2007
Notes:
(* Karya Epri Abdurrahman
kubaca
dengan nada tak begitu gembira
syair kang Epri bercerita
”susu sekarang sudah semakin dewasa
ia sudah pandai memilih jalannya sendiridan
tak lagi begitu suka diatur-atur
bahkan penguasapun dibuatnya berkata
"Itu di luar kami punya kuasa(*"
kemarin sore
kulihat di tivi
seorang bapak ditangkap polisi
kar’na mencuri
tak ada uang
tuk beli susu sapi
buat si bayi
beberapa malam lalu
kulihat di layar gelas
ketua perkumpulan pengusaha berkelas
menaikkan harga susu
smakin meranggas
jauh dari tunas
oh baby boy ku
terngiang slalu ditelingaku
jelang tidur kau menyela
Yah, mik cucu!
oh baby boy ku
haruskah
kami turunkan (lagi)
beberapa derajat
kualitas teman tidur mu
hantarkanmu mimpi-mimpi indah
didunia suci kanakmu
Kota Pudak, 5 Juli 2007
Notes:
(* Karya Epri Abdurrahman
Kebersamaan
dalam tawaruk
ku getarkan asma Mu
dilatifah-latifah karunia Mu
tempat pekat segala hasrat
menjolok dzikir Mu maha tinggi
tersungkur ku dalam putaran tasbih
kembara angan berpusar di ruang waktu
ketika bismillah hanya terucap
oh…jiwa terlena
gemerlap dan megahnya dunia
oh…jiwa merana
tak tergapai hasrat cinta
oh…jiwa melekat pada segala nikmat
di bumi Mu
ku sebut-sebut asma Mu
ku s’makin dekat di lapisan-lapisan pintu Mu
mengetuk-ngetuk,
dalam ledakan tangis
merunduk-runduk,
dengan rasa hina
mendoa ku dapat bersama
memohon Engkau dekat
lebih dekat dari urat leher
disaat ku duduk,
berdiri,
dan berbaring
hanya Engkau ku maksud
hanya ridho Mu ku tuju
ku getarkan asma Mu
dilatifah-latifah karunia Mu
tempat pekat segala hasrat
menjolok dzikir Mu maha tinggi
tersungkur ku dalam putaran tasbih
kembara angan berpusar di ruang waktu
ketika bismillah hanya terucap
oh…jiwa terlena
gemerlap dan megahnya dunia
oh…jiwa merana
tak tergapai hasrat cinta
oh…jiwa melekat pada segala nikmat
di bumi Mu
ku sebut-sebut asma Mu
ku s’makin dekat di lapisan-lapisan pintu Mu
mengetuk-ngetuk,
dalam ledakan tangis
merunduk-runduk,
dengan rasa hina
mendoa ku dapat bersama
memohon Engkau dekat
lebih dekat dari urat leher
disaat ku duduk,
berdiri,
dan berbaring
hanya Engkau ku maksud
hanya ridho Mu ku tuju
Heaven Park
di lingkaran tawaruk
getar-getar qolbu sapa asma Mu
taman surga Mu
benarkah bermain-main
aku ditaman Mu
ketika apa-apa
tiada
getar-getar qolbu sapa asma Mu
taman surga Mu
benarkah bermain-main
aku ditaman Mu
ketika apa-apa
tiada
Wanita - Wanita Perkasa I
Gelap masih menyelimuti bumi. Adzan Subuh masih belum juga terdengar. Ketika Sal melintasi jalanan sempit berbatu mendaki yang lumayan tajam itu. Bayangan pepohonan dipinggir jalan menambah kegelapan dan kengerian jalan. Tertiup angin fajar bayangan dedaunan dan ranting pepohonan seperti makhluk-makhluk aneh yang menari-nari dijalanan. Hanya ada beberapa rumah saja nampak terlihat agak terang dengan lampu penerangan seadanya. Samar-samar dari belakang Sal melihat bayangan-bayangan hitam sedang berjalan menaiki jalanan mendaki. Terdengar suara-suara saling bersahutan namun tidak jelas apa yang mereka bicarakan. Mungkin bagi mereka yang belum terbiasa melihat hal ini akan ketakutan seperti melihat hantu-hantu malam bergentayangan. Bayangan hitam bergerombol itu memang seperti bentuk-bentuk makhluk mengerikan yang berjalan naik turun menyusuri jalanan mendaki.Sal mempercepat langkahnya hingga hanya berapa langkah dibelakang bayangan-bayangan hitam tadi yang ternyata adalah rombongan beberapa wanita dengan beban daun jati dipunggungnya untuk dijual dipasar. Mereka melingkarkan selendang sebagai tali beban daun jati yang terlihat sangat berat. Dengan jarak hanya beberapa langkah dari rombongan itu suara-suara saling bersahutan yang ternyata obrolan diantara rombongan wanita penjual daun jati itu semakin jelas didengar oleh Sal.“Payu pira yu, wingi?”[1] Tanya wanita paling depan“Eh..luwung Mi, isok digawe tuku blonjo digawe mangan sedino”[2] Jawab wanita dibelakangnya“Alkamdulillah Yu, sampean iso langsung payu, wingi iku aku ngenteni payu sampek rodok awan”[3] kata wanita disamping wanita yang dipanggil Yu itu.Sal mempercepat langkahnya kembali melewati rombongan wanita penjual daun jati seperti biasa Sal mendapat sapaan ramah dari mereka“budal, Le?[4]“Inggih, De”[5] jawab Sal sopan“Dalem riyin, De”[6] sambung Sal.“Iyo, Le sing ati-ati”[7]Senin pagi itu Sal memang harus kembali kekota untuk sekolah. Seperti senin-senin sebelumnya Sal harus selalu bangun pagi untuk naik bus mini dari desanya ke terminal. Seperti biasa dalam bus benak Sal selalu terbayang wajah-wajah wanita tetangga di desanya yang hampir tiap pagi menggendong daun jati untuk dijual dipasar. “Ah…betapa susahnya mencari uang, mereka bersusah payah menggendong beban berat hanya untuk mendapatkan uang beberapa ribu untuk biaya makan hari itu juga bagi keluarga” pikir Sal dalam hati.“Bila sakit siapakah yang menanggung biaya hidup mereka?” Tanya Sal pada diri sendiri.Sal beruntung punya Ayah yang memiliki tanah luas sehingga bisa membiayai hidupnya, bahkan dapat membiaya sekolahnya sampai kekota. Meskipun terkadang masih kurang dan harus meminta bantuan Kakak Sal yang bekerja dikota lain. Sebuah kesempatan yang jarang dilakukan oleh orang-orang didesanya. Disamping masih menganggap pendidikan tidak penting bagi anak-anak mereka, kebanyakan juga karena keterbatasan ekonomi.Entah siapa yang harus bertanggungjawab atas kondisi ini. Seperti juga Sal yang selalu memanjatkan doa setelah menyelesaikan sujud-sujudnya tentu mereka juga selalu berdoa agar diberi kebaikan dunia dan kebaikan pada saat kehidupan nanti serta diberi kelapangan dan tambahan rizki yang halal.Apakah memang Tuhan berada ditempat yang jauh, yang tak tergapai manusia yakni di Arsy sehingga rintihan mereka tidak didengar. Sehingga tetap saja mereka harus menggendong beban berat setiap hari untuk dapat makan. Tetap saja anak-anak mereka tidak dapat bersekolah sehingga harus bekerja seperti yang mereka kerjakan.“Ah, Tuhan memang jauh” pikir SalLalu dalam benak Sal terngiang-ngiang suara-suara keras dari loud speaker yang tiap saat saling bersahutan memanggil-manggil nama Tuhan.
[1] Laku berapa, Yu (panggilan untuk wanita yang lebih tua), kemarin”
[2] “Eh..lumayan Mi, bisa dipakai beli belanja untuk makan sehari”
[3] “Alhamdulillah Yu, bisa langsung laku (barang jualan), kemarin saya menunggu sampai agak siang baru laku”
[4] “Berangkat, Le (panggilan kepada anak laki-laki, Thole)?”
[5] “Iya, Bu De”
[6] “Saya duluan, Bu De”
[7] “Iya, Le, hati-hati”
Notes:
- Judul tulisan ini terinspirasi oleh sebuah puisi yang dimuat di milist penyair
- Tulisan ini sebelumnya berjudul wanita-wanita penjual daun jati
[1] Laku berapa, Yu (panggilan untuk wanita yang lebih tua), kemarin”
[2] “Eh..lumayan Mi, bisa dipakai beli belanja untuk makan sehari”
[3] “Alhamdulillah Yu, bisa langsung laku (barang jualan), kemarin saya menunggu sampai agak siang baru laku”
[4] “Berangkat, Le (panggilan kepada anak laki-laki, Thole)?”
[5] “Iya, Bu De”
[6] “Saya duluan, Bu De”
[7] “Iya, Le, hati-hati”
Notes:
- Judul tulisan ini terinspirasi oleh sebuah puisi yang dimuat di milist penyair
- Tulisan ini sebelumnya berjudul wanita-wanita penjual daun jati
Tuesday, July 3, 2007
Spiritualisasi Sains
Monday, September 12, 2005
Tesis Huntington tentang benturan peradaban seperti memperoleh pembenar, namun hal itu masih memerlukan sejumlah bukti dan uji sejarah. Beberapa penanda memang bisa memperkuat tesis etrsebut seperti perkembangan terorisme dan perlawanan terhadapnya setelah hancurnya menara kembar World Trade Center (WTC) pada 11 September 2001 lalu. Usai ''perang dingin'', kini dunia global memasuki konflik yang lebih hebat. Konflik antara peradaban Barat yang sekuler dan peradaban Timur yang spiritual.
Tapi, salah satu penyebabnya bukanlah seperti yang dibayangkan Huntington. Melainkan, lebih sebagai rasionalitas material yang ad hoc dalam dunia sains (iptek) dan logika spiritual dalam dunia religi yang seperti tak peduli pada realitas empirik. Kecenderungan demikian justru mengandaikan konflik yang lebih dahsyat dari konflik dunia selama era ''perang dingin''.
Jika kita bersedia membebaskan rasionalitas sains dari logika material, maka ia akan sampai pada wilayah spiritual --ketika prinsip dasar epistemologi sains adalah relativitas yang selalu menyisakan problem akibat reduksi, merupakan syarat bagi pemikiran ilmiah (sains). Sementara logika religi yang spiritual seperti mengabaikan data empirik ketika logika ini melakukan loncatan (ekstrapolasi) ke wilayah terjauh ke dunia metafisik --yang oleh kaum agawaman disebut wilayah ketuhanan. Dua model logika ini bisa didamaikan jika realitas alam dan kemanusiaan diletakkan dalam keutuhan otentiknya. Reduksi dalam logika sains mengandaikan adanya suatu entitas atau wilayah yang memang sengaja tak disentuh dan ditolak sebagai objek sains.
Sementara itu, logika religi yang spiritual mengandaikan pemaksaan dunia empirik tunduk pada doktrin-doktrin metafisik. Fakta lapangan menunjukkan kesatuan otentik antara wilayah empirik dan metafisik. Yang pertama sebagai medan dan ajang gerak naik memasuki wilayah metafisik yang spiritual, dan yang kedua tak akan dikenal tanpa yang pertama, sementara yang pertama tak mempunyai nilai tanpa yang kedua. Logika biner semacam ini menjadikan praktik ritual keagamaan terasing dari kehidupan empirik selain gagal menjalankan fungsi profetiknya bagi promosi kemanusiaan dan peradaban yang bermartabat. Sementara sains modern kehilangan makna otentiknya yang cenderung menjadikan manusia sibuk berebut harta dan kuasa, tak peduli hal itu mencederai peradaban dan kehidupan anak-cucunya sendiri.
Pesan Isra Mi'raj
Peristiwa Isra Mi'raj pada ke-14 abad lalu, selain membawa ajaran ritual shalat lima waktu, juga membawa pesan mengenai kesatuan otentik sains dan religi tersebut. Islam bukanlah sekadar religi dalam pengertian sains modern yang hanya mengajarkan bagaimana melakukan ritual yang langsung ditujukan pada Tuhan. Lebih luas lagi, Alquran dan Sunah Rasul mengajarkan ritual tentang bagaimana mengolah alam dan hubungan antarmanusia.
Ritual dalam bentuk yang pertama tidak lengkap dan tidak membawa kehidupan duniawi lebih bermartabat tanpa ritual dalam format kedua. Sementara ritual format kedua tak bermakna dan kehilangan arah (spiritual) tanpa ritual dalam bentuk pertama. Pemikiran intelektual Muslim generasi pertama seperti Al-Kindi, Ibn Sina, Al-Farabi, dan banyak lagi lainnya, tidak hanya menjadikan ritual pertama sebagai objek kajian tapi juga yang kedua. Berbagai ilmu dalam pemikiran generasi awal Islam yang belakangan disebut ''Ilmu Keislaman'' (Islamic Studies), meliputi sains dan religi dalam pengertian modern itu sendiri. Membatasi Islamic Studies hanya seperti yang dipelajari IAIN atau STAIN dan didakwahkan dalam berbagai mimbar khutbah dan pengajian selama ini, berarti melakukan reduksi secara sengaja seperti konsep religi dalam sains modern.
Upaya menyatukan ilmu dalam gugus Islamic Studies dan ilmu dalam gugus sains modern berarti mengukuhkan pandangan sekularisme itu sendiri. Karena itu, lebih strategis jika lembaga pendidikan tinggi Islam, baik negeri (yang belakangan berubah status menjadi universitas) atau swasta, kembali pada prinsip dasar ilmu otentik yang membagi sains atau ilmu ke dalam bidang ilmu teks (Alquran dan sunah) dan ilmu tentang ciptaan (alam, manusia, dan alam metafisik) --dengan segala dinamika kesejarahannya, jika kita tidak mau memakai taksonomi klasik tentang ilmu alam, ilmu sosial, dan ilmu humaniora.
Strategi pengembalian pada ilmu otentik itu bisa ditempuh melalui spiritualisasi sains di satu sisi dan fungsionalisasi religi pada sisi yang lain. Dari sini peristiwa Isra Mi'raj bisa dijadikan salah satu pemicu bagi pengembangan strategi tersebut. Peristiwa ini bukan sekadar ''wisata'' spiritual Nabi Muhammad SAW, tapi sekaligus merupakan ''wisata'' sains dan fungsionalisasi keduanya dalam kehidupan empirik manusia dalam sejarah duniawi.
''Wisata'' spiritual merupakan pemaknaan terhadap transendensi atas fakta empirik dalam kehidupan sejarah umat manusia ketika Nabi (baca; manusia) secara sengaja melakukan alienasi (pengasingan) terhadap kehidupan keseharian, agar dengan cara itu manusia bisa melihat secara spiritual perjalanan hidupnya yang dijalani selama ini. Dari langkah ini, seseorang bisa melakukan koreksi atau rekonstruksi kehidupannya sendiri.
Sementara ''wisata'' sains bisa dikaji dari perjalanan Nabi SAW menembus ruang dan waktu membebaskan diri dari perangkap gravitasi. Persoalan ini terus mengundang perdebatan ulama dan ahli sains modern hingga saat ini. Sementara perkembangan fisika teknik mulai menggagas tentang mesin waktu sehingga manusia bisa bertandang ke masa lalu dan masa yang akan datang, ahli sains masih belum menemukan teori tentang bagaimana membebaskan manusia dari hukum gravitasi itu sendiri.
Pertanyaan terbesar
Misteri peristiwa Isra Mi'raj bukan sekadar mukjizat atau kehendak Tuhan semata, tapi ia merupakan pertanyaan terbesar sains modern, khususnya fisika teknik. Keduanya mungkin bisa dipecahkan jika logika sains modern dibebaskan dari konsep materialisasi realitas, dan logika religi dibebaskan dari konsep sakralisasi Islamic Studies.
Dari sini, secara serentak dilakukan spiritualisasi sains modern dan fungsionalisasi ritual. Selanjutnya dapat dilakukan rekonstruksi pembidangan ilmu atau nomenklatur baru yang tidak lagi menempatkan sains sebagai ilmu sekuler dan ilmu-ilmu dalam gugus Islamic Studies sebagai ilmu setara dengan ilmu-ilmu dalam gugus sains modern.
Karena itu, tugas para ulama dan ilmuwan Muslim, terutama yang selama ini tergabung dalam lembaga pendidikan tinggi Islam seperti UIN, IAIN, dan STAIN, atau perguruan tinggi Islam swasta lainnya, untuk melakukan dan mengembangkan strategi pembelajaran berdasar otentisitas ilmu dalam pemikiran Islam. Rasionalitas sains modern pada umumnya berhenti pada satu titik material. Jika logika sains modern itu diletakkan pada kebebasan terbukanya, maka dimungkinkan rasionalitas sains modern itu akan terus mengalir memasuki wilayah spiritual.
Pada saat yang sama, ilmu-ilmu di dalam gugus Islamic Studies diletakkan pada kerangka ilmu yang profan dan terbuka. Dari cara ini kedua gugus ilmu yang selama ini diletakkan pada posisi terpisah dan saling bertentangan itu akan mencapai satu titik yang sama, yaitu pada wilayah dan dimensi spiritual itu sendiri.
Di sinilah perubahan status IAIN menjadi UIN bersama universitas negeri lainnya dan universitas swasta Islam bisa melakukan telaah bagi model konstruksi ilmu otentik. Selanjutnya dikembangkan strategi pembelajaran berdasar konstruksi ilmu otentik tersebut. Kerja demikian tentu membutuhkan waktu cukup lama, tapi bisa dimulai dari langkah sederhana dengan orientasi jauh ke depan. Langkah ini bukan saja penting bagi pengembangan lembaga pendidikan tinggi Islam itu sendiri, tapi bagi kepentingan peradaban dunia yang lebih manusiawi dan berpeluang bebas dari konflik. Dari sini Islam bisa menyumbangkan suatu bentuk peradaban yang lebih damai seperti keyakinan pemeluknya tentang fungsi Islam sebagai berkah bagi seluruh penghuni alam ini (rahmatan lil 'alamin) dan makna dari nama Islam itu sendiri.
Oleh : Abdul Munir Mulkhan, Spiritualisasi Sains dan Fungsionalisasi Religi, Harian Republika, 1 September 2005, hlm 1
Tesis Huntington tentang benturan peradaban seperti memperoleh pembenar, namun hal itu masih memerlukan sejumlah bukti dan uji sejarah. Beberapa penanda memang bisa memperkuat tesis etrsebut seperti perkembangan terorisme dan perlawanan terhadapnya setelah hancurnya menara kembar World Trade Center (WTC) pada 11 September 2001 lalu. Usai ''perang dingin'', kini dunia global memasuki konflik yang lebih hebat. Konflik antara peradaban Barat yang sekuler dan peradaban Timur yang spiritual.
Tapi, salah satu penyebabnya bukanlah seperti yang dibayangkan Huntington. Melainkan, lebih sebagai rasionalitas material yang ad hoc dalam dunia sains (iptek) dan logika spiritual dalam dunia religi yang seperti tak peduli pada realitas empirik. Kecenderungan demikian justru mengandaikan konflik yang lebih dahsyat dari konflik dunia selama era ''perang dingin''.
Jika kita bersedia membebaskan rasionalitas sains dari logika material, maka ia akan sampai pada wilayah spiritual --ketika prinsip dasar epistemologi sains adalah relativitas yang selalu menyisakan problem akibat reduksi, merupakan syarat bagi pemikiran ilmiah (sains). Sementara logika religi yang spiritual seperti mengabaikan data empirik ketika logika ini melakukan loncatan (ekstrapolasi) ke wilayah terjauh ke dunia metafisik --yang oleh kaum agawaman disebut wilayah ketuhanan. Dua model logika ini bisa didamaikan jika realitas alam dan kemanusiaan diletakkan dalam keutuhan otentiknya. Reduksi dalam logika sains mengandaikan adanya suatu entitas atau wilayah yang memang sengaja tak disentuh dan ditolak sebagai objek sains.
Sementara itu, logika religi yang spiritual mengandaikan pemaksaan dunia empirik tunduk pada doktrin-doktrin metafisik. Fakta lapangan menunjukkan kesatuan otentik antara wilayah empirik dan metafisik. Yang pertama sebagai medan dan ajang gerak naik memasuki wilayah metafisik yang spiritual, dan yang kedua tak akan dikenal tanpa yang pertama, sementara yang pertama tak mempunyai nilai tanpa yang kedua. Logika biner semacam ini menjadikan praktik ritual keagamaan terasing dari kehidupan empirik selain gagal menjalankan fungsi profetiknya bagi promosi kemanusiaan dan peradaban yang bermartabat. Sementara sains modern kehilangan makna otentiknya yang cenderung menjadikan manusia sibuk berebut harta dan kuasa, tak peduli hal itu mencederai peradaban dan kehidupan anak-cucunya sendiri.
Pesan Isra Mi'raj
Peristiwa Isra Mi'raj pada ke-14 abad lalu, selain membawa ajaran ritual shalat lima waktu, juga membawa pesan mengenai kesatuan otentik sains dan religi tersebut. Islam bukanlah sekadar religi dalam pengertian sains modern yang hanya mengajarkan bagaimana melakukan ritual yang langsung ditujukan pada Tuhan. Lebih luas lagi, Alquran dan Sunah Rasul mengajarkan ritual tentang bagaimana mengolah alam dan hubungan antarmanusia.
Ritual dalam bentuk yang pertama tidak lengkap dan tidak membawa kehidupan duniawi lebih bermartabat tanpa ritual dalam format kedua. Sementara ritual format kedua tak bermakna dan kehilangan arah (spiritual) tanpa ritual dalam bentuk pertama. Pemikiran intelektual Muslim generasi pertama seperti Al-Kindi, Ibn Sina, Al-Farabi, dan banyak lagi lainnya, tidak hanya menjadikan ritual pertama sebagai objek kajian tapi juga yang kedua. Berbagai ilmu dalam pemikiran generasi awal Islam yang belakangan disebut ''Ilmu Keislaman'' (Islamic Studies), meliputi sains dan religi dalam pengertian modern itu sendiri. Membatasi Islamic Studies hanya seperti yang dipelajari IAIN atau STAIN dan didakwahkan dalam berbagai mimbar khutbah dan pengajian selama ini, berarti melakukan reduksi secara sengaja seperti konsep religi dalam sains modern.
Upaya menyatukan ilmu dalam gugus Islamic Studies dan ilmu dalam gugus sains modern berarti mengukuhkan pandangan sekularisme itu sendiri. Karena itu, lebih strategis jika lembaga pendidikan tinggi Islam, baik negeri (yang belakangan berubah status menjadi universitas) atau swasta, kembali pada prinsip dasar ilmu otentik yang membagi sains atau ilmu ke dalam bidang ilmu teks (Alquran dan sunah) dan ilmu tentang ciptaan (alam, manusia, dan alam metafisik) --dengan segala dinamika kesejarahannya, jika kita tidak mau memakai taksonomi klasik tentang ilmu alam, ilmu sosial, dan ilmu humaniora.
Strategi pengembalian pada ilmu otentik itu bisa ditempuh melalui spiritualisasi sains di satu sisi dan fungsionalisasi religi pada sisi yang lain. Dari sini peristiwa Isra Mi'raj bisa dijadikan salah satu pemicu bagi pengembangan strategi tersebut. Peristiwa ini bukan sekadar ''wisata'' spiritual Nabi Muhammad SAW, tapi sekaligus merupakan ''wisata'' sains dan fungsionalisasi keduanya dalam kehidupan empirik manusia dalam sejarah duniawi.
''Wisata'' spiritual merupakan pemaknaan terhadap transendensi atas fakta empirik dalam kehidupan sejarah umat manusia ketika Nabi (baca; manusia) secara sengaja melakukan alienasi (pengasingan) terhadap kehidupan keseharian, agar dengan cara itu manusia bisa melihat secara spiritual perjalanan hidupnya yang dijalani selama ini. Dari langkah ini, seseorang bisa melakukan koreksi atau rekonstruksi kehidupannya sendiri.
Sementara ''wisata'' sains bisa dikaji dari perjalanan Nabi SAW menembus ruang dan waktu membebaskan diri dari perangkap gravitasi. Persoalan ini terus mengundang perdebatan ulama dan ahli sains modern hingga saat ini. Sementara perkembangan fisika teknik mulai menggagas tentang mesin waktu sehingga manusia bisa bertandang ke masa lalu dan masa yang akan datang, ahli sains masih belum menemukan teori tentang bagaimana membebaskan manusia dari hukum gravitasi itu sendiri.
Pertanyaan terbesar
Misteri peristiwa Isra Mi'raj bukan sekadar mukjizat atau kehendak Tuhan semata, tapi ia merupakan pertanyaan terbesar sains modern, khususnya fisika teknik. Keduanya mungkin bisa dipecahkan jika logika sains modern dibebaskan dari konsep materialisasi realitas, dan logika religi dibebaskan dari konsep sakralisasi Islamic Studies.
Dari sini, secara serentak dilakukan spiritualisasi sains modern dan fungsionalisasi ritual. Selanjutnya dapat dilakukan rekonstruksi pembidangan ilmu atau nomenklatur baru yang tidak lagi menempatkan sains sebagai ilmu sekuler dan ilmu-ilmu dalam gugus Islamic Studies sebagai ilmu setara dengan ilmu-ilmu dalam gugus sains modern.
Karena itu, tugas para ulama dan ilmuwan Muslim, terutama yang selama ini tergabung dalam lembaga pendidikan tinggi Islam seperti UIN, IAIN, dan STAIN, atau perguruan tinggi Islam swasta lainnya, untuk melakukan dan mengembangkan strategi pembelajaran berdasar otentisitas ilmu dalam pemikiran Islam. Rasionalitas sains modern pada umumnya berhenti pada satu titik material. Jika logika sains modern itu diletakkan pada kebebasan terbukanya, maka dimungkinkan rasionalitas sains modern itu akan terus mengalir memasuki wilayah spiritual.
Pada saat yang sama, ilmu-ilmu di dalam gugus Islamic Studies diletakkan pada kerangka ilmu yang profan dan terbuka. Dari cara ini kedua gugus ilmu yang selama ini diletakkan pada posisi terpisah dan saling bertentangan itu akan mencapai satu titik yang sama, yaitu pada wilayah dan dimensi spiritual itu sendiri.
Di sinilah perubahan status IAIN menjadi UIN bersama universitas negeri lainnya dan universitas swasta Islam bisa melakukan telaah bagi model konstruksi ilmu otentik. Selanjutnya dikembangkan strategi pembelajaran berdasar konstruksi ilmu otentik tersebut. Kerja demikian tentu membutuhkan waktu cukup lama, tapi bisa dimulai dari langkah sederhana dengan orientasi jauh ke depan. Langkah ini bukan saja penting bagi pengembangan lembaga pendidikan tinggi Islam itu sendiri, tapi bagi kepentingan peradaban dunia yang lebih manusiawi dan berpeluang bebas dari konflik. Dari sini Islam bisa menyumbangkan suatu bentuk peradaban yang lebih damai seperti keyakinan pemeluknya tentang fungsi Islam sebagai berkah bagi seluruh penghuni alam ini (rahmatan lil 'alamin) dan makna dari nama Islam itu sendiri.
Oleh : Abdul Munir Mulkhan, Spiritualisasi Sains dan Fungsionalisasi Religi, Harian Republika, 1 September 2005, hlm 1
Islamisasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Posted On: 6 May 2005, 23:14
Filed In: Bacaan, Islam, Iptek
Action: Drop Comments Trackback URI Comments Feed
Tentang Artikel
Artikel ini dikutip lengkap dari Warta Sains Dan Teknologi “DIMENSI” vol. 5 no. 2 edisi Juni 2003 hal. 39 (dalam format file PDF) terbitan ISTECS Japan.
Artikel dimaksud sebagai bahan referensi pribadi dan telah melewati pengeditan seperlunya tanpa merubah maksud.
Islamisasi Ilmu Pengetahuan & Teknologi
Oleh: Adi Junjunan Mustafa,
Disarikan oleh: Nesia Andriana, pada acara diskusi bulanan KAMMI-JP, 22 Juni 2003.
tempat manusia mengecil
tak sanggup memberi ruang
tuk tumbuh pencakar-pencakar langit
tapi jiwa-jiwa manusia
tambah berkeluh kesah
1. Pengantar
Berkat ilmu pengetahuan dan teknologi, kini jarak tidak lagi menjadi masalah yang berarti dalam dimensi hidup manusia. Dunia menjadi kecil. Siapapun bisa saling bercerita panjang lebar dari dua sisi dunia yang berbeda. Semua pekerjaan rutin bisa diselesaikan dengan cepat. Tapi ternyata itu tak membuat manusia mengaku lebih bahagia. Manusia menjadi miskin terhadap perasaan kemanusiaannya sendiri. Di manakah sumber masalahnya? Manusianya? Ipteknya?
KAMMI-JP, 22 Juni 2003, dipandu Bp. Adi Junjunan, Msc (Direktur ISTECS 2002-2004, red) mengadakan sebuah bincang-bincang kecil seputar sikap Islam terhadap perkembangan iptek dewasa ini.
Sains adalah sarana pemecahan masalah mendasar setiap peradaban. Ia adalah ungkapan fisik dari world view di mana dia dilahirkan.
Maka kita bisa memahami mengapa di Jepang yang kabarnya sangat menghargai nilai waktu demikian pesat berkembang budaya “pachinko” dan game. Tentu disebabkan mereka tak beriman akan kehidupan setelah mati, dan tak mempunyai batasan tentang hiburan.
Kini ummat Islam hanya sebagai konsumen sains yang ada sekarang. Kalaupun mereka ikut berperan di dalamnya, maka – secara umum — mereka tetap di bawah kendali pencetus sains tersebut. Ilmuwan-ilmuwan muslim masih sulit menghasilkan teknologi-teknologi eksak — apalagi non-eksak — untuk menopang kepentingan khusus ummat Islam.
Dunia Islam mulai bangkit (kembali) memikirkan kedudukan sains dalam Islam pada dekade 70-an. Pada 1976 dilangsungkan seminar internasional pendidikan Islam di Jedah. Dan semakin ramai diseminarkan di tahun 80-an.
2. Empat pendekatan
Secara umum, dikenal 4 kategori pendekatan sains Islam:
2.1 I’jazul Qur’an.
I’jazul Qur’an dipelopori Maurice Bucaille yang sempat “boom” dengan bukunya “La Bible, le Coran et la Science” (edisi Indonesia: “Bibel, Qur’an dan Sains Modern“).
Pendekatannya adalah mencari kesesuaian penemuan ilmiah dengan ayat Qur’an. Hal ini kemudian banyak dikritik, lantaran penemuan ilmiah tidak dapat dijamin tidak akan mengalami perubahan di masa depan. Menganggap Qur’an sesuai dengan sesuatu yang masih bisa berubah berarti menganggap Qur’an juga bisa berubah.
2.2 Islamization Disciplines.
Yakni membandingkan sains modern dan khazanah Islam, untuk kemudian melahirkan text-book orisinil dari ilmuwan muslim. Penggagas utamanya Ismail Raji al-Faruqi, dalam bukunya yang terkenal, Islamization of Knowledge, 1982.
Ide Al-Faruqi ini mendapat dukungan yang besar sekali dan dialah yang mendorong pendirian International Institute of Islamic Thought (IIIT) di Washington (1981), yang merupakan lembaga yang aktif menggulirkan program seputar Islamisasi pengetahuan.
Rencana Islamisasi pengetahuan al-Faruqi bertujuan:
Penguasaan disiplin ilmu modern.
Penguaasaan warisan Islam.
Penentuan relevansi khusus Islam bagi setiap bidang pengetahuan modern.
Pencarian cara-cara untuk menciptakan perpaduan kreatif antara warisan Islam dan pengetahuan modern (melalui survey masalah umat Islam dan umat manusia seluruhnya).
Pengarahan pemikiran Islam ke jalan yang menuntunnya menuju pemenuhan pola Ilahiyah dari Allah.
Realisasi praktis islamisasi pengetahuan melalui: penulisan kembali disiplin ilmu modern ke dalam kerangka Islam dan menyebarkan pengetahuan Islam.
2.3 Membangun sains pada pemerintahan Islami.
Ide ini terutama pada proses pemanfaatan sains. “Dalam lingkungan Islam pastilah sains tunduk pada tujuan mulia.” Ilmuwan Pakistan, Z.A. Hasymi, memasukkan Abdus Salam dan Habibie pada kelompok ini.
2.4 Menggali epistimologi1 sains Islam (murni).
Epistimologi sains Islam murni digali dari pandangan dunia dunia Islam, dan dari sinilah dibangun teknologi dan peradaban Islam. Dipelopori oleh Ziauddin Sardar, dalam bukunya: “Islamic Futures: “The Shape of Ideas to Come”” (1985), edisi Indonesia: “Masa Depan Islam, Pustaka, 1987).
Sardar mengkritik ide Al-Faruqi dengan pemikiran:
Karena sains dan teknologilah yang menjaga struktur sosial, ekonomi dan politik yang menguasai dunia.
Tidak ada kegiatan manusia yang dibagi-bagi dalam kotak-kotak: “psikologi”, “sosiologi”, dan ilmu politik.
Menerima bagian-bagian disipliner pengetahuan yang dilahirkan dari epistimologi Barat berarti menganggap pandangan dunia Islam lebih rendah daripada peradaban Barat.
1Epistimologi: teori pengetahuan, titik dari setiap pandangan dunia. Pokok pertanyaannya: “Apa yang dapat diketahui dan bagaimana kita mengetahuinya”.
3. Sepuluh Konsep
Penemuan kembali sifat dan gaya sains Islam di zaman sekarang merupakan salah satu tantangan paling menarik dan penting, karena kemunculan peradaban muslim yang mandiri di masa akan datang tergantung pada cara masyarakat muslim masa kini menangani hal ini.
Dalam seminar tentang “Pengetahuan dan Nilai-Nilai” di Stocholm, 1981, dengan bantuan International Federation of Institutes of Advance Study (IFIAS), dikemukakan 10 konsep Islam yang diharapkan dapat dipakai dalam meneliti sains modern dalam rangka membentuk cita-cita Muslim. Kesepuluh konsep ini adalah:
Paradigma Dasar:
(1) tauhid — meyakini hanya ada 1 Tuhan, dan kebenaran itu dari-Nya.
(2) khilafah — kami berada di bumi sebagai wakil Allah — segalanya sesuai keinginan-Nya.
(3)`ibadah (pemujaan) — keseluruhan hidup manusia harus selaras dengan ridha Allah, tidak serupa kaum Syu’aib yang memelopori akar sekularisme: “Apa hubungan sholat dan berat timbangan (dalam dagang)”.
Sarana:
(4) `ilm — tidak menghentikan pencarian ilmu untuk hal-hal yang bersifat material, tapi juga metafisme, semisal diuraikan Yusuf Qardhawi dalam “Sunnah dan Ilmu Pengetahuan”.
Penuntun:
(5) halal (diizinkan).
(6)`adl (keadilan) — semua sains bisa berpijak pada nilai ini: janganlah kebencian kamu terhadap suatu kaum membuat-mu berlaku tidak adil. (Q.S. Al-Maidah 5 : 8). Keadilan yang menebarkan rahmatan lil alamin, termasuk kepada hewan, misalnya: menajamkan pisau sembelihan.
(7) istishlah (kepentingan umum).
Pembatas:
(8) haram (dilarang).
(9) zhulm (melampaui batas).
(10) dziya’ (pemborosan) — “Janganlah boros, meskipun berwudhu dengan air laut”.
4. Tatanan Praktis
Dalam membangun dan mengejar perbaikan iptek dunia Islam, Sardar mengajukan 2 pemikiran dasar:
Menganalisa kebutuhan sosial masyarakat muslim sendiri, dan dari sinilah dirancang teknologi yang sesuai.
Teknologi ini dikembangkan dalam kerangka pandangan-dunia muslim.
Kenyataannya, sangat tidak mudah bekerja di luar paradigma yang dominan, lantaran kita masih terikat dan terdikte dengan disiplin-disiplin ilmu yang dicetuskan dari, oleh dan untuk Barat.
Namun paling tidak ada dua agenda praktis yang dapat dijadikan landasan: jangka pendek: membekali ilmuwan Islam dengan syakhshiyah Islamiyah, dan jangka panjang: perumusan kurikulum pendidikan Islam yang holistik.
Program perumusan kurikulum pendidikan Islam ini sudah mulai terlihat bentuknya di Indonesia, dengan lahirnya banyak sekolah sekolah Islam. Secara umum garis besarnya berlandaskan: SD: habitual; SMP: habitual dengan konsep; SMU: habitual dengan konsep dan ideologi. Diharapkan, anak anak yang dididik di sini, pasa saat memasuki universitas, sudah siap bertarung secara ideologi.
– *** –
Sumber lain yang berkaitan:
Abdul Munir Mulkhan. Dilema Madrasah di Antara Dua Dunia. Kompas. 23 November 2001.
Wan Mohd Nor Wan Daud. Filsafat dan Praktik Pendidikan Syed M. Naquib Al-Attas. Mizan. 2003. (Lihat pula resensi buku tersebut).
Filed In: Bacaan, Islam, Iptek
Action: Drop Comments Trackback URI Comments Feed
Tentang Artikel
Artikel ini dikutip lengkap dari Warta Sains Dan Teknologi “DIMENSI” vol. 5 no. 2 edisi Juni 2003 hal. 39 (dalam format file PDF) terbitan ISTECS Japan.
Artikel dimaksud sebagai bahan referensi pribadi dan telah melewati pengeditan seperlunya tanpa merubah maksud.
Islamisasi Ilmu Pengetahuan & Teknologi
Oleh: Adi Junjunan Mustafa,
Disarikan oleh: Nesia Andriana, pada acara diskusi bulanan KAMMI-JP, 22 Juni 2003.
tempat manusia mengecil
tak sanggup memberi ruang
tuk tumbuh pencakar-pencakar langit
tapi jiwa-jiwa manusia
tambah berkeluh kesah
1. Pengantar
Berkat ilmu pengetahuan dan teknologi, kini jarak tidak lagi menjadi masalah yang berarti dalam dimensi hidup manusia. Dunia menjadi kecil. Siapapun bisa saling bercerita panjang lebar dari dua sisi dunia yang berbeda. Semua pekerjaan rutin bisa diselesaikan dengan cepat. Tapi ternyata itu tak membuat manusia mengaku lebih bahagia. Manusia menjadi miskin terhadap perasaan kemanusiaannya sendiri. Di manakah sumber masalahnya? Manusianya? Ipteknya?
KAMMI-JP, 22 Juni 2003, dipandu Bp. Adi Junjunan, Msc (Direktur ISTECS 2002-2004, red) mengadakan sebuah bincang-bincang kecil seputar sikap Islam terhadap perkembangan iptek dewasa ini.
Sains adalah sarana pemecahan masalah mendasar setiap peradaban. Ia adalah ungkapan fisik dari world view di mana dia dilahirkan.
Maka kita bisa memahami mengapa di Jepang yang kabarnya sangat menghargai nilai waktu demikian pesat berkembang budaya “pachinko” dan game. Tentu disebabkan mereka tak beriman akan kehidupan setelah mati, dan tak mempunyai batasan tentang hiburan.
Kini ummat Islam hanya sebagai konsumen sains yang ada sekarang. Kalaupun mereka ikut berperan di dalamnya, maka – secara umum — mereka tetap di bawah kendali pencetus sains tersebut. Ilmuwan-ilmuwan muslim masih sulit menghasilkan teknologi-teknologi eksak — apalagi non-eksak — untuk menopang kepentingan khusus ummat Islam.
Dunia Islam mulai bangkit (kembali) memikirkan kedudukan sains dalam Islam pada dekade 70-an. Pada 1976 dilangsungkan seminar internasional pendidikan Islam di Jedah. Dan semakin ramai diseminarkan di tahun 80-an.
2. Empat pendekatan
Secara umum, dikenal 4 kategori pendekatan sains Islam:
2.1 I’jazul Qur’an.
I’jazul Qur’an dipelopori Maurice Bucaille yang sempat “boom” dengan bukunya “La Bible, le Coran et la Science” (edisi Indonesia: “Bibel, Qur’an dan Sains Modern“).
Pendekatannya adalah mencari kesesuaian penemuan ilmiah dengan ayat Qur’an. Hal ini kemudian banyak dikritik, lantaran penemuan ilmiah tidak dapat dijamin tidak akan mengalami perubahan di masa depan. Menganggap Qur’an sesuai dengan sesuatu yang masih bisa berubah berarti menganggap Qur’an juga bisa berubah.
2.2 Islamization Disciplines.
Yakni membandingkan sains modern dan khazanah Islam, untuk kemudian melahirkan text-book orisinil dari ilmuwan muslim. Penggagas utamanya Ismail Raji al-Faruqi, dalam bukunya yang terkenal, Islamization of Knowledge, 1982.
Ide Al-Faruqi ini mendapat dukungan yang besar sekali dan dialah yang mendorong pendirian International Institute of Islamic Thought (IIIT) di Washington (1981), yang merupakan lembaga yang aktif menggulirkan program seputar Islamisasi pengetahuan.
Rencana Islamisasi pengetahuan al-Faruqi bertujuan:
Penguasaan disiplin ilmu modern.
Penguaasaan warisan Islam.
Penentuan relevansi khusus Islam bagi setiap bidang pengetahuan modern.
Pencarian cara-cara untuk menciptakan perpaduan kreatif antara warisan Islam dan pengetahuan modern (melalui survey masalah umat Islam dan umat manusia seluruhnya).
Pengarahan pemikiran Islam ke jalan yang menuntunnya menuju pemenuhan pola Ilahiyah dari Allah.
Realisasi praktis islamisasi pengetahuan melalui: penulisan kembali disiplin ilmu modern ke dalam kerangka Islam dan menyebarkan pengetahuan Islam.
2.3 Membangun sains pada pemerintahan Islami.
Ide ini terutama pada proses pemanfaatan sains. “Dalam lingkungan Islam pastilah sains tunduk pada tujuan mulia.” Ilmuwan Pakistan, Z.A. Hasymi, memasukkan Abdus Salam dan Habibie pada kelompok ini.
2.4 Menggali epistimologi1 sains Islam (murni).
Epistimologi sains Islam murni digali dari pandangan dunia dunia Islam, dan dari sinilah dibangun teknologi dan peradaban Islam. Dipelopori oleh Ziauddin Sardar, dalam bukunya: “Islamic Futures: “The Shape of Ideas to Come”” (1985), edisi Indonesia: “Masa Depan Islam, Pustaka, 1987).
Sardar mengkritik ide Al-Faruqi dengan pemikiran:
Karena sains dan teknologilah yang menjaga struktur sosial, ekonomi dan politik yang menguasai dunia.
Tidak ada kegiatan manusia yang dibagi-bagi dalam kotak-kotak: “psikologi”, “sosiologi”, dan ilmu politik.
Menerima bagian-bagian disipliner pengetahuan yang dilahirkan dari epistimologi Barat berarti menganggap pandangan dunia Islam lebih rendah daripada peradaban Barat.
1Epistimologi: teori pengetahuan, titik dari setiap pandangan dunia. Pokok pertanyaannya: “Apa yang dapat diketahui dan bagaimana kita mengetahuinya”.
3. Sepuluh Konsep
Penemuan kembali sifat dan gaya sains Islam di zaman sekarang merupakan salah satu tantangan paling menarik dan penting, karena kemunculan peradaban muslim yang mandiri di masa akan datang tergantung pada cara masyarakat muslim masa kini menangani hal ini.
Dalam seminar tentang “Pengetahuan dan Nilai-Nilai” di Stocholm, 1981, dengan bantuan International Federation of Institutes of Advance Study (IFIAS), dikemukakan 10 konsep Islam yang diharapkan dapat dipakai dalam meneliti sains modern dalam rangka membentuk cita-cita Muslim. Kesepuluh konsep ini adalah:
Paradigma Dasar:
(1) tauhid — meyakini hanya ada 1 Tuhan, dan kebenaran itu dari-Nya.
(2) khilafah — kami berada di bumi sebagai wakil Allah — segalanya sesuai keinginan-Nya.
(3)`ibadah (pemujaan) — keseluruhan hidup manusia harus selaras dengan ridha Allah, tidak serupa kaum Syu’aib yang memelopori akar sekularisme: “Apa hubungan sholat dan berat timbangan (dalam dagang)”.
Sarana:
(4) `ilm — tidak menghentikan pencarian ilmu untuk hal-hal yang bersifat material, tapi juga metafisme, semisal diuraikan Yusuf Qardhawi dalam “Sunnah dan Ilmu Pengetahuan”.
Penuntun:
(5) halal (diizinkan).
(6)`adl (keadilan) — semua sains bisa berpijak pada nilai ini: janganlah kebencian kamu terhadap suatu kaum membuat-mu berlaku tidak adil. (Q.S. Al-Maidah 5 : 8). Keadilan yang menebarkan rahmatan lil alamin, termasuk kepada hewan, misalnya: menajamkan pisau sembelihan.
(7) istishlah (kepentingan umum).
Pembatas:
(8) haram (dilarang).
(9) zhulm (melampaui batas).
(10) dziya’ (pemborosan) — “Janganlah boros, meskipun berwudhu dengan air laut”.
4. Tatanan Praktis
Dalam membangun dan mengejar perbaikan iptek dunia Islam, Sardar mengajukan 2 pemikiran dasar:
Menganalisa kebutuhan sosial masyarakat muslim sendiri, dan dari sinilah dirancang teknologi yang sesuai.
Teknologi ini dikembangkan dalam kerangka pandangan-dunia muslim.
Kenyataannya, sangat tidak mudah bekerja di luar paradigma yang dominan, lantaran kita masih terikat dan terdikte dengan disiplin-disiplin ilmu yang dicetuskan dari, oleh dan untuk Barat.
Namun paling tidak ada dua agenda praktis yang dapat dijadikan landasan: jangka pendek: membekali ilmuwan Islam dengan syakhshiyah Islamiyah, dan jangka panjang: perumusan kurikulum pendidikan Islam yang holistik.
Program perumusan kurikulum pendidikan Islam ini sudah mulai terlihat bentuknya di Indonesia, dengan lahirnya banyak sekolah sekolah Islam. Secara umum garis besarnya berlandaskan: SD: habitual; SMP: habitual dengan konsep; SMU: habitual dengan konsep dan ideologi. Diharapkan, anak anak yang dididik di sini, pasa saat memasuki universitas, sudah siap bertarung secara ideologi.
– *** –
Sumber lain yang berkaitan:
Abdul Munir Mulkhan. Dilema Madrasah di Antara Dua Dunia. Kompas. 23 November 2001.
Wan Mohd Nor Wan Daud. Filsafat dan Praktik Pendidikan Syed M. Naquib Al-Attas. Mizan. 2003. (Lihat pula resensi buku tersebut).
Subscribe to:
Posts (Atom)
Sepetak Sajak
Kau tidak menyebut nama-Ku
kau menyebut namamu
(Gatoloco, Asmaradana, Goenawan Mohammad)----
aku ingin mencintamu dengan membabi buta-
dengan sebotol racun yang diteguk Romeo
tanpa sangsi yang membuat kematiannya jadi puisi
aku ingin kau mencintaiku dengan membabi buta
dengan sebilah belati yang ditikamkan Juliet
ke dada sendiri yang membuatnya jadi abadi
(Aku Ingin, Autobiografi, Saut Situmorang)