Pages

Wednesday, October 31, 2007

Ombak Tertusuk Hujan


:parangtritis dalam gathering



gugusan gemawan merangkak pelan
pekat berarak mendekat bumi
dongakandongakan wajah cemas
mengincar teduh di buram cuaca


sebenarnya tak ingin kami pergi
sebab matahari meminta kami bernyanyi
meninabobokan panas terik tidur di siang hari
dalam gigil dinginnya hati


ombakpun tertusuktusuk rinai kami
aduh deburnya meratap senyap
menahan luka dalam tak terperikan
lelah menyerah di tepitepi pasir parangtritis


adalah aku, ombak itu
yang tertusuktusuk senandung mimpimimpi
dalam dekap erat berlarilari
pergi dan mencari: dalam tatap berpasangpasang mata serigala
yang nyalangnya seperti pemilik surga


adalah aku, ombak itu
berjuang menyerah pada jalan indah kesunyian pantai
di dataran lembut pasir hati
setelah badai jiwa musti terlewati
tempat bersemayam sang Mahapasti


Parangtritis dalam kenangan, 30 Oktober 2007

Wednesday, October 24, 2007

Ranggalaweku Mabok



- tuk sebuah kota asal -


duduk melingkar di tepitepi jalan,
di tepitepi persimpangan dan di banyak sudut-sudut jalanan
dalam dzikir sumpah serapah
dengan bonjorbonjor sebagai kubah
setelah ongkek berdiri menepi

”satu centhak lagi, Kang” pinta mereka dalam tawar tawa
ya, satu centhak lagi akan mengantarmu pergi
setelah berjam-jam dilingkaran sumpah serapah
memasuki dunia mimpimimpi
terbang tinggi dari bumi Ranggalawe
tempat berpijak dan beranak-pinak


lupakan,
sepi penumpang sulitnya setoran
lupakan saja,
gagal panen musim kemarin
dan kencang angin laut tepiskan tangkapan
ya lupakan sejenak
tunggakan beberapa bulan biaya pendidikan kanak-kanak
juga lupakan
centang perentang kekuasaan kemarin hari
menghancurkan gedung-gedung kekuasaan, simbol-simbol kebusukan
menyisakan nyeri di balik jeruji besi


mari, mari pergi ke lain dunia penuh euforia
dengan kuasa ada ditangan kita
kita bangun rumah-rumah megah bermarmer mengkilat bertaman indah
yang disampingnya garasi luas dengan mercy dan jaguar berjajar


dan beberapa model mewah parkir dengan gagah


ayo, ayo pergi ke lain dunia penuh euforia
dengan kuasa ada ditangan kita
kita bagi-bagi kue kekuasaan di segala bidang
yang membentuk robot-robot setia tanpa idealisme demi sebuah jabatan


kita putuskan sejanak
alir deras darah Ranggalawe di uraturat kita
berperang menyerang ketidakadilan tatanan
menggenggam nurani sampai tetes penghabisan


bercengkerama di dunia penuh euforia
membangun kastil mimpi di siang hari
berdinding batubatu igauan dan pokok-pokok jati ilusi
membentuk wilayah utopia bagian dari negeri terluka



Notes:

  1. Centhak : adalah suatu tempat (digunakan sebagai Gelas) untuk minum toak terbuat dari bambu.
  2. Bonjor: adalah tempat persediaan toak terbuat dari bambu yang lebih panjang dan besar sebelum dituang ke dalam centhak untuk diminum.
  3. Ongkek: adalah keseluruhan dari kumpulan bonjor-bonjor dan centhak-centhak yang di pikul oleh seorang penjual toak untuk memudahkan pemindahan lokasi.
  4. Toak: adalah sejenis minuman keras yang dapat memabukkan khas daerah Tuban terbuat dari air dahan pohon Siwalan yang telah difermentasi. Buah Siwalan juga merupakan buah tangan khas Kabupaten Tuban. Sepanjang Jalan masuk menuju Kota Tuban dari arah Babat (atau jalan keluar Kota Tuban) akan dijumpai penjual Tuak, Legen, dan Siwalan di kanan dan kiri sepanjang jalan sebagai buah tangan. [minuman ini dipercaya dapat digunakan sebagai obat sakit kencing batu].
  5. Legen: adalah sejenis minuman khas daerah Tuban terbuat dari air dahan pohon Siwalan tanpa dilakukan fermentasi, rasanya manis khas dan tidak memabukkan.
  6. Ranggalawe: adalah Adipati Tuban zaman awal Kerajaan Majapahit [memiliki karakter kuat, keras, dan pro kebenaran], salah satu pejuang dan pendiri kerajaan Majapahit yang tersingkir dari kekuasaan Kerajaan Majapahit karena ulah pungawa (politik kekuasaan) lain yang akhirnya membangkang dan memberontak kerajaan Majapahit.


Kota Pudak, 24 Oktober 2007 [Kota Tuban dalam Angan]

Matahari Pengagum Malam


- untuk Ibu -

duduk di beranda bersama senja
mengurai getir genangan silam
jelang larut pada malam penuh gemawan

sudahlah Ibu,
yang telah pergi tak kan kembali
takdir sunyi tlah menghampiri
pada tiap-tiap yang berjiwa

menatapmu adalah samudra sunyi
menyimpan kelam di dasar hati
atas alir air keruh duka yang bermuara
dari anak-anak sungai perjuangan

adalah engkau, ibu
matahari pengagum malam
tersipu-sipu malu sembunyi diri
pada senjakala hari
mengintip malam di fajar hari

adalah engkau,ibu
matahari pengagum malam
sinarmu akan tetap mengabadi
pada tiap relung – relung sunyi


Kota Pudak, 23 Oktober 2007

Wednesday, October 3, 2007

Ku Rajuk Engkau

ku rajuk-rajuk Engkau di paruh baya Ramadan
pada pusat-pusat keramaian tempat perbelanjaan
pada simbol-simbol keliaranMu di juta kenikmatan

nyalang pandang pada tampilan sexy paling menawan
berjalan bergoyang bertandang dari merek ke merek
berseliweran menyedak muatanMu di alir nadi berkelindan



Kota Pudak, 3 Oktober 2007

Tuesday, October 2, 2007

Perniagaan Dengan Tuhan

Tuhan, sudahkah Engkau jurnalkan di buku besar
tentang amar ma’ruf nahi mungkar

debet kredit tergurat di lembar halaman demi halaman
di detik-detik jejak nafas kehidupan

mengincarMu di kolom-kolom rugi-laba
menelisik aktiva pahala dan pasiva dosa pada baris-baris neraca

Tuhan, sudahkan rasio-rasio pahala dosaku melampaui matra
karena murka jiwaku selalu membara menyuara


Kota Pudak, 2 Oktober 2007

Menghapus Impian

:awie

bila seribu kenangan tak lekang adalah ”impian usai(*” tak pernah selesai
kuhapuskan haru birunya yang berderai

agar waktu tak jadi abu
menoleh takdir di jerit parau


(*: dari sajak Wayan Sunarta


Kota Pudak, 2 Oktober 2007

Hujan Senja

bersamamu turun tak berbilang makhlukMu paling seia sekata
tengadahkan tangan-tangan suci hamba

memuji puja dengan doa mantra
mengantarmu berpulang di negeri senja

- tentang Ia tercinta yang t'lah tiada –


Kota Pudak, 2 Oktober 2007

Sepetak Sajak

Kau tidak menyebut nama-Ku
kau menyebut namamu

(Gatoloco, Asmaradana, Goenawan Mohammad)

----

aku ingin mencintamu dengan membabi buta-
dengan sebotol racun yang diteguk Romeo
tanpa sangsi yang membuat kematiannya jadi puisi

aku ingin kau mencintaiku dengan membabi buta
dengan sebilah belati yang ditikamkan Juliet
ke dada sendiri yang membuatnya jadi abadi

(Aku Ingin, Autobiografi, Saut Situmorang)