~ mengenangmu, Pak ~
detak kenangan mengapa selalu menikam pada hamparan ladang dilingkari alir sungai kecil mengering dan meluap mengikuti irama musim.
nak, arus sungai adalah cita-cita membawa anganmu menderas sampai muara jauh, arus sungai adalah sekaligus perjuangan melawan arus lurus menuju hulu meraih mata air bening melimpah. katamu, sambil engkau kumpulkan daun bambu kering dan menyulutnya, lalu kitapun menikmati jagung bakar dipinggir ladang pada suatu senja di dunia ceriaku.
derak kenangan mengapa selalu mengiang pada rerimbun kebun dibisiki gemericik air tumpah tak tertadah dari tarikan kekar dan kasar tanganmu.
sawo matang adalah kulit kami, anak-anakmu memilih kembara di rimba kota sebagai penghidupannya sedangkan kulitmu legam terbakar cahaya mengolah dan membalik tanah menyemai kehidupan yang berkah.
gerak kenangan mengapa selalu membayang pada liukan roboh pohonan bambu diterjang parang ditanganmu.
pada setapak jalan berlumpur diantara rimbun rumpun bambu, aku pernah mengantarmu pada senja di pembaringan terakhir saat hampir seribu hari telah lewat.
Mei 2008
Wednesday, May 28, 2008
Gandrung
nanar tatap mata
membadai di kepala
sunyi katakata
bergemuruh di sebalik dada
Mei 2008
membadai di kepala
sunyi katakata
bergemuruh di sebalik dada
Mei 2008
Monday, May 12, 2008
Mahapuisi
MahabenarMu tersurat dalam
MahakatakataMu
MahabesarMu tersirat dalam
MahakaryaMu
MahakasihMu tergurat dalam
sangsaiku
Mahapemurahmu terucap dalam
sukacitaku
MahacahyaMu nyelinap dalam
dadaku
MahapuisiMu kapankah terurai
dalamdalam
dalam
kepalaku
dalam
pandangku
dalam
lakuku
dalam
lukaku
dalam
ngiluku
dalam
rintihku
dalam
igauku
dalam
kulitku
dalam
laguku
dalam
rinduku
yang batu
Mei 2008
MahakatakataMu
MahabesarMu tersirat dalam
MahakaryaMu
MahakasihMu tergurat dalam
sangsaiku
Mahapemurahmu terucap dalam
sukacitaku
MahacahyaMu nyelinap dalam
dadaku
MahapuisiMu kapankah terurai
dalamdalam
dalam
kepalaku
dalam
pandangku
dalam
lakuku
dalam
lukaku
dalam
ngiluku
dalam
rintihku
dalam
igauku
dalam
kulitku
dalam
laguku
dalam
rinduku
yang batu
Mei 2008
Friday, May 9, 2008
Dua Sajak Lima Larik
Di Universitas Kubawa Sejarahku
TUAN dan PUAN Ahli Sejarah, bisakah
Tuan dan Puan meluruskan sejarahku
yang berkelok-kelok penuh angan dan ingin
seperti sungai kecil membelah kota
hitam pekat penuh gulma?
Di Rumah Ibadah Kubawa Kitabku
TUAN dan PUAN Ahli Kitab, bisakah
Tuan dan Puan bertadarus kitabku
yang penuh coretan tinta merah
agar tangan kananku dapat menggapainya
pada saatnya nanti?
Mei 2008
Terinspirasi Sajak Di Kios Arloji Kubawa Jam Otomatis, Hasan Aspahani di http://sejuta-puisi.blogspot.com
TUAN dan PUAN Ahli Sejarah, bisakah
Tuan dan Puan meluruskan sejarahku
yang berkelok-kelok penuh angan dan ingin
seperti sungai kecil membelah kota
hitam pekat penuh gulma?
Di Rumah Ibadah Kubawa Kitabku
TUAN dan PUAN Ahli Kitab, bisakah
Tuan dan Puan bertadarus kitabku
yang penuh coretan tinta merah
agar tangan kananku dapat menggapainya
pada saatnya nanti?
Mei 2008
Terinspirasi Sajak Di Kios Arloji Kubawa Jam Otomatis, Hasan Aspahani di http://sejuta-puisi.blogspot.com
Tuesday, May 6, 2008
Sajak Rindu
rindumu pedang tajam
diasah sepi
kilaunya menyilaukan
siap melukai
hati siapa lara
tergores mimpi dan melankoli
Mei 2008
diasah sepi
kilaunya menyilaukan
siap melukai
hati siapa lara
tergores mimpi dan melankoli
Mei 2008
Subscribe to:
Posts (Atom)
Sepetak Sajak
Kau tidak menyebut nama-Ku
kau menyebut namamu
(Gatoloco, Asmaradana, Goenawan Mohammad)----
aku ingin mencintamu dengan membabi buta-
dengan sebotol racun yang diteguk Romeo
tanpa sangsi yang membuat kematiannya jadi puisi
aku ingin kau mencintaiku dengan membabi buta
dengan sebilah belati yang ditikamkan Juliet
ke dada sendiri yang membuatnya jadi abadi
(Aku Ingin, Autobiografi, Saut Situmorang)