Pages

Tuesday, February 26, 2008

Maut

ciumlah aroma liat tubuhku

penuh selera

putih belulang muda membumikan

gairahMu

mangsalah aku hidup-hidup

dalam hidup agar

rintih perih mendidih

jerit sakit melangit

goncangkan sunyi senyap

semayamMu





Lamongan, 24 Februari 2008

Wednesday, February 20, 2008

Geletar Duka

geletar duka mengabar
dekat sekitar
gemetar benakku berpijar-pijar
mungkinkah sang pengintai alpa
menunaikan aba-abaNya


di kutuk takdir hidup
melangkah muram dalam kelam
mendaki bukit demi bukit duka
tertuntun damba
menemu cayaNya


Kota Pudak, 19 Februari 2008

Tuesday, February 12, 2008

Mengeja Idola

: buat Andity – Penyanyi


pada suatu siang, sementara diluar
langit menggantung gemawan
aku saksikan sebuah acara hiburan
menampilkan sosok putih rupawan
ceria bercerita dalam wawancara
dalam balutan t-shirt putih ketat memikat
dengan dada penuh
nada sungguh
gembira (atau bangga)
berkisah tentang asal usul
puluhan atau mungkin ratusan barang
tak langka jadi koleksi kesayangan
dari dalam dan seberang lautan

sungguh aku mengeja suatu jarak
antara yang engkau injak
dan nasib mereka yang terinjak
dengan buntalan-buntalan asa
dikepala
yang hanya bisa
bermimpi dan menggigit jari
memandang kakimu yang dólar sekali


Februari 2008

Menanti Sebuah Duka

seringkali ku dengar di sekitar
suara-suara, tertawa-tawa
sementara kabar duka
menyeruak berkala di baliknya

detik ini saatmu
sedangkan aku belum terhitung
pada giliran yang menunggu
tawa mereka bahagia
seakan derainya tak menua
lalu binasa

pada apa yang mereka sebut-sebut
di mulut dan hafalan kata-kata di kepala
mereka percaya kelak
adalah penuntun menuju sebuah negeri
nyaman sentausa tak kurang suatu apa
sebagai miliknya yang telah di kapling lama

akhirnya, silat kata pada yang beda
seringkali hadir mengeraskan jiwa
seakan-akan tak menebarkan dusta
cerita yang tak pernah dialami, sebuah spekulasi


ah, seandainya hidup
tidak mencengkeram dan dicengkeram
konsep-konsep dan dogma-dogma
tapi hanya menuju yang NYATA
mungkin tak perlu mengobral berbuih kata-kata
menegangkan urat-urat leher


HANYA duduk bersama dalam damai dan
tenang jiwa, menyelam tenggelam dalam DIAM


Februari 2008

Pelangi Senja Hari

Buat Pelangiku


senja dari balik jendela kaca
guyuran hujan telah reda
senja yang indah
hati yang gelisah
senja yang basah
benak yang kembara tak tentu arah

menelusuri jalan pulang
masih terasa hangat
sisa-sisa saat perpisahan
ketika engkau harus menjauh kembali
meski tak pernah bisa pergi
selalu tangis, tawa, riang, manja, dan celotehmu
mencengkeram hati

seorang gadis kecil
berlari-lari kecil melonjak berteriak
jari kecilnya menunjuk langit:
”ada pelangi”
lalu kudongakkan kepala

kulihat lengkung pelangi
terbelah dua diatas kota

ah, pelangi
kemanakah warna-warnimu
hingga jarak membelah memisahkan keindahanmu
seperti hatiku yang terbelah
merindukan pelangiku yang jauh
terpisah jarak gelisah



Jan-Feb 2008

Friday, February 1, 2008

Dalam SapaMu

detik-detik yang terhenti sunyi terbaring menikmati panas dan gigil tubuh yang datang tibatiba sehabis subuh, sementara di luar, langit hanya terdengar gaungnya.

sebuah tari-tarian di tenggorokan mengikuti jejak rancak gamelan di ringkih dada senandungkan simfoni duka terus menggerus berat tubuh yang semakin lusuh

hei, mengapa sepertinya engkau terus saja mengintai di situ? ada kabar apa dari Tuhanmu? Tuhan kita juga, apakah engkau juga menunggu aba-abaNya hingga hanya mengintai-intai disitu saja

dengar, sudah sejak lama juga aku ingin mengenal Ia setelah seringkali sebuah sapa aku terima, bahkan sejak di belia usia tetapi tak pernah ku temui jejak pertanda yang melegakan sukma.

sang pengintai: tolong sampaikan, ingin rasanya menolak sapaNya yang membuat aku tak nikmat menyeduh dunia, tak jenak memandang maya. sementara diluar, pohon-pohon hanya terdengar gemeretaknya.

mungkin ini hanya sebuah angan sederhana, tepat di saat Engkau menyapa, kupinta aliri saja dadaku dengan muatanMu hingga menjadi lapang menerima segala yang sempat datang, tak meratapi yang telah pergi, tak ada keluh, tak ada lenguh, hanya suara-suara tersekat mensyukuri segala bala’ dan duka menjadi sebuah nikmat jiwa.


Kota Pudak, 1 Februari 2008

Misteri Senyum Daripadamu

harihari tanpa daripadamu
semangkin nyeri semangkin sunyi
menyelami parutparut hati
yang engkau goresken melalui
tangantangan daripada kekuasaan

sebuah masa dimana warnawarna
adalah sebuah jalan kehidupan
engkau campakken mereka
yang tak sewarna, serupa juga seirama

kini, misteri senyum daripadamu
tak lagi membuat kami merekaduga
kerna disebuah bukit yang engkau bangun
sebagai kedinastian daripadamu
telah kokoh mendekapmu beristirah


Kota Pudak, 31 Januari 2008

Sepetak Sajak

Kau tidak menyebut nama-Ku
kau menyebut namamu

(Gatoloco, Asmaradana, Goenawan Mohammad)

----

aku ingin mencintamu dengan membabi buta-
dengan sebotol racun yang diteguk Romeo
tanpa sangsi yang membuat kematiannya jadi puisi

aku ingin kau mencintaiku dengan membabi buta
dengan sebilah belati yang ditikamkan Juliet
ke dada sendiri yang membuatnya jadi abadi

(Aku Ingin, Autobiografi, Saut Situmorang)