Pages

Wednesday, December 24, 2008

Di Pasar Senggol

membayangkanmu dari sini, kekasih terkasih
sepanjang jalan Arif Rahman Hakim
sebuah surga bagi para pedagang kaki lima
pada jarak lintasan pipa dan rel kereta tua
semua ada semua tersedia

aku pesan pada seorang pelayan
wajah bening lumayan
dua porsi makanan
satu untukku satu untukmu
karena engkau tak ada disisiku
akupun menghabiskannya untukmu

membayangkanmu dari sini, kekasih terkasih
sepanjang jalan Arif Rahman Hakim
aku tak ingin seperti mereka,
seperti seorang kekasih tak setia
menunggu dan berharap-harap
hampiran lalu lalang orang-orang
untuk sebuah penghidupan

membayangkanmu dari sini, kekasih terkasih
duduk pada sebuah kursi jati berjajar rapi
aku hanya bisa meredam kata-kata hati
agar tak bergerak dan memberontak
seperti gerbong-gerbong kereta tua
berderak-derak ke stasiun kota

ketika aku saksikan berpasang para muda
saling bergenggaman dan bersuapan
mesra seperti tak ada siapa-siapa
menarik anganku pada suatu masa
ketika kita tak hirau sekitar kita


Gresik, 24 Desember 2008

Tuesday, December 23, 2008

Rumah Cinta

~ Met ultah Yank (16 Des) ~


entah sampai dimana buih-buih
kata-kata kita mengembara
mungkin serupa puisi
melangit bersama jiwa-jiwa
pencinta

di sini
di sebuah ruang dan waktu
yang entah
pernah kita berbincang
dalam derai tawa panjang
tentang rumah impian cinta
sebuah tempat teduh
sederhana
melingkar tak bersudut
serupa cincin tersematkan
dengan jari manis sebagai kaktus
pada taman bebunga ditengah-tengahnya

aku dan engkau menjadi kaca
saling bercermin dan menjaga

bukankah itu satu dari tak banyak
mimpi-mimpi kita tentang suatu masa
menanti kita menuju kepadanya?

akan kita bangun dia
persis serupa
tak kurang dan tak lebih
sedikitpun wujudnya

namun, entah sampai kapan buih-buih
kata-kata kita menjelma
serupa puisi mengangkasa bersama
para pencari menyelami nyeri

sedangkan jarak masih saja
menebar resah
membuat tabir pemisah
hingga hari-hari kita
ditingkapi rasa gelisah
dan bersalah

inilah sebuah jarak
menunggu kita pijakkan jejak-jejak kita
dengan hati bersenandung madah cinta
sebagai puisi perjalanan menuju takdir pertemuan


Desember 2008

Wednesday, December 17, 2008

Menugal Ladang Kerontang

ladang-ladang hati kami telah kering kerontang oleh kemarau tauladan panjang hingga dendang dendam ketidakadilan mengakar-tunggang menyulur menjalar meretakkan pilar-pilar.

kami tak pernah berharap lebih dengan turunnya deras hujan, hanya musim labuh dengan rinai yang rintik dan sengat matahari tak begitu terik pun kami syukuri agar kami dapat menugal ladang-ladang hati kami sendiri menyemaikan biji-biji harap masa depan sebagai zikir lelaku kami bersama dan atas nama Tuan kami.

namun labuh pun sering salah musim dan kami hanya bisa menyalahkan cuaca tanpa bisa berbuat apa-apa. kami hanya dapat mengeja ketika angin gemetar menebar benih-benih pedih setelah mereka menugal ladang-ladang malang kami.

lalu tersemailah tunas-tunas duka menggayut di lindap muka menyembul api dibalik dada sewaktu-waktu menyulut membakar ladang-ladang kerontang mengirim asap merintikkan mata.

begitulah berabad-abad telah lewat kami saksikan kepedihan dalam dendam sejarah selalu berdarah-bernanah oleh ulah tetua-tetua kami.

masa lalu telah mengajari agar kami harus kokoh dan tak boleh roboh menggenggam Tugal kami sebagai pegangan menyemai bibit kehidupan, pedoman tanwujud mengakrabi maut.



Gresik, 17 Desember 2008

Friday, December 12, 2008

Permainan Kata-Kata

~ Vony ~


sepanjang siang itu di British Council
kata-kata semakin melena-memencil
kita. kita adalah sepasang fatamorgana
bertabir mesra. bermuka-muka melupa
sisa-sisa perih luka dilubuk dada

bila engkau akhiri permainan ini, sayangku
kepada siapakah tawar tawa ini
aku ledakkan?

sesiang itu di British Council
aku mengkais-kais huruf-huruf
ingin kurangkai menjadi kunci
sebagai pembuka memasuki gerbang hatimu.
namun kata-kata telah membuih di hatimu
hingga kata-kata engkau lempar tiada jeda

mungkin sebuah kutukan
hingga kata-kata menjebak kita
menjadi permainan abadi
kita pun tetap menjadi sepasang
katamorgana

pada pucuk-pucuk kamboja bermekaran
gairah telah tetirah berteduh dibawahnya
tertatik-tatih mengubur sebuah nama
seringkali tereja terselip
diantara bayang-bayang realita


Nov – Des 2008

Sepetak Sajak

Kau tidak menyebut nama-Ku
kau menyebut namamu

(Gatoloco, Asmaradana, Goenawan Mohammad)

----

aku ingin mencintamu dengan membabi buta-
dengan sebotol racun yang diteguk Romeo
tanpa sangsi yang membuat kematiannya jadi puisi

aku ingin kau mencintaiku dengan membabi buta
dengan sebilah belati yang ditikamkan Juliet
ke dada sendiri yang membuatnya jadi abadi

(Aku Ingin, Autobiografi, Saut Situmorang)