Pages

Tuesday, June 16, 2009

Orang-Orang Percaya

Kau tak menyebut Nama-Ku, kau menyebut namamu
(Gatoloco, Goenawan Mohammad)




mereka menyebut kami
salah jalan,
kami menyebut mereka
sungsang
mereka mengatai kami
mengada-ada
kami mengatai mereka
tak tahu kedalaman
mereka menghakimi kami
sesat
kami menghakimi mereka
"wow hebat"

gelap adalah bukan karena tak ada cahaya tapi gelap
adalah ketika cahaya kami tidak sama dengan cahaya mereka

sesat adalah bukan karena jalan kami tak menuju kepada Nya tapi
sesat adalah ketika jalan kami berbeda dengan jalan mereka

begitulah dunia kami berpercaya
seperti telah menjadi kaki dan tanganNya
seperti telah menjadi mata dan telingaNya

begitulah dunia kami berpercaya
seperti iklan sebuah komoditi di televisi

ketika semua berkata ”kamilah yang paling utama, hanya kami yang paling........”


Gresik, 2009

Musim Menyebut-Nyebut Kebaikan

ketika telah tiba musim menyebut-nyebut kebaikan-kebaikan sendiri sungguh dia menjadi ragu tentang kebenaran ajaran untuk melupakan kebaikan-kebaikan dan mengingat-ingat ketidakbaikan diri sendiri.

dengan pikiran masih dalam keheranan dia melihat mereka yang menyebut-nyebut kebaikan-kebaikan diri sendiri mereka menggunakan topi-topi yang mereka kenakan dipanggung-keramaian untuk menahan panas terik gunjingan.

lalu, dia mencatat ada berbagai merek topi terkenal yang mereka kenakan mulai dari topi merek: brengsek, sialan, .........dan beberapa merek terkenal berbahasa lokal dan asing: pukimak, damned, bastard...........

ah, sungguh semua sangat pas, serasi, dan cocok dengan topi-topi yang mereka kenakan sambil membual tentang penderitaan-penderitaan yang tak mereka rasakan dan janji-janji yang segera mereka lupakan.

Gresik, 14 April 2009



Ilustrator: Ika Amalia Pratiwi

Sepetak Sajak

Kau tidak menyebut nama-Ku
kau menyebut namamu

(Gatoloco, Asmaradana, Goenawan Mohammad)

----

aku ingin mencintamu dengan membabi buta-
dengan sebotol racun yang diteguk Romeo
tanpa sangsi yang membuat kematiannya jadi puisi

aku ingin kau mencintaiku dengan membabi buta
dengan sebilah belati yang ditikamkan Juliet
ke dada sendiri yang membuatnya jadi abadi

(Aku Ingin, Autobiografi, Saut Situmorang)