Mengaji Puisi: Refrein di Sudut Dam

0 comments
Oleh: Abu Salman

Dulu, mungkin sekitar delapan atau tujuh tahun yang lalu, saya masih teringat betapa saya merasa seperti membaca sebuah narasi yang memprovokasi batin saya ketika menikmati “Panggil Aku Kartini Saja” nya Pramoedya Ananta Toer (PAT), meskipun bukan sebuah provokasi, hanya batin saya saja yang mudah terpengaruh dan tidak dapat menahan gemuruh dan geram di dada hingga akhirnya seperti terdengar terikan yang tertahan “kejam!!”

Barangkali bagi saya pribadi adalah salah apa yang dikatakan bahwa “One man death is a tragedy, but million death is a statistic” (Nikita Khruschev). Justru pada paragraph-paragraf “data-data statistik” itulah yang membuat saya tak henti-henti berpikir ketika itu, saat membaca angka-angka statistic yang dinarasikan oleh PAT dalam karyanya tersebut, yaitu angka-angka jumlah penduduk pulau Jawa semasa zaman colonial Belanda saat menerapkan culture stelsel atau tanam paksa.

Betapa untuk membangun negeri Dam(ed) harus dengan menggunakan tidak hanya kekayaan nusantara, namun juga darah dan air mata manusia di bumi nusantara. Seperti tercermin dari data-data yang disajikan dalam karya tersebut yang dari waktu ke waktu mengalami penurunan drastis saat sebelum sampai dengan diterapkannya kebijakan tanam paksa. Akibat kebijakan tak manusiawi dari colonial Belanda tersebut banyak rakyat yang meninggal baik akibat didera kelaparan karena tanah para penduduk harus ditanami dengan tanaman yang ditetapkan oleh Belanda sehingga tidak dapat bercocok tanam tanaman pangan sesuai kebutuhan mereka.

Dengan membaca saja rasanya saya seperti memikul beban sejarah yang memilukan dan menyesakkan dada. Saya tidak dapat membayangkan bagaimana bila saya menyaksikan dengan mata kepala sendiri jejak-jejak kemewahan dan kemegahan yang dibangun dari keringat darah rakyat Indonesia ditempat sumber keserakahan itu berasal.

Apalagi bagi seorang penyair yang katanya berhati peka ketika menyaksikan jejak sejarah yang pernah membuat bangsanya menderita selama beberapa abad.
Lalu bagaimanakah seorang D. Zawawi Imron menyikapi momen tersebut. Yaitu momen ketika sang penyair asal Madura tersebut berinteraksi langsung dengan alam dan generasi keturunan orang-orang dari bangsa yang pernah menyengsarakan bangsanya.

Refleksi itulah yang diungkapkan penyair yang terkenal dengan sebutan Celurit Emas dalam sebuah buku kumpulan puisi bertajuk “Refrein di Sudut Dam”. Sebuah buku kumpulan puisi yang diterbitkan oleh Bentang Budaya, Juni 2003 yang terdiri dari XIV + 104 halaman, memuat 101 sajak.

Sebagaimana yang dikemukakan sang penyair dalam pengantarnya bahwa terciptanya sajak-sajak dalam buku kumpulan puisi ini merupakan salah satu hasil dari memenuhi undangan pembacaan puisi dalam festival Winternachten, sebuah festival internasional sastra dan seni musim dingin yang berpusat di Den Haag. Tanpa menghadiri acara tersebut, maka puisi-puisi dalam buku ini tidak akan pernah lahir.

Sang penyair tak sendiri dalam menghadiri undangan acara tersebut. Bersama sejawat sastrawan/penyair lain seperti: Joko Pinurbo, Ayu Utami, Dorothea Rosa Herliany. Secara bersama-sama mereka berangkat ke Den Haag menghadiri festival Winternachten sebuah festival sastra dan seni musim dingin berpusat di Den Haag yang bertaraf internasional tersebut..

Menyebut nama Festival Winternachten, saya jadi teringat sebuah catatan dari penyair/esseis Yogyakarta, Saut Situmorang dalam esainya/artikelnya di mailing list yang “memprotes” kehadiran orang-orang dari kelompok tertentu saja yang mewakili sastrawan Indonesia menghadiri festival tersebut atau festival internasional lainnya.

Bagi D. Zawawi Imron puisi merupakan sesuatu yang digunakan sebagai proses pembelajarannya dalam menyelami jiwa kemanusian dan ayat-ayat Tuhan, maka tak heran banyak sajak-sajaknya yang bernuansa religius atau pembacaan atas sikap batinnya sendiri. Puisi bagi sang penyair tersebut juga merupakan salah satu jendela untuk melihat kehidupan dan mengakrabi semangat hidup.

Diawali dengan sebuah sajak bertajuk ”Jakarta – Amsterdam, 10 Januari 2002” seolah-olah membuka karya ini dengan sebuah sikap kepasrahan kepada Tuhan, kepasrahan atas permainan pikiran yang diusik oleh berbagai kekhawatiran yang dipicu oleh berbagai peristiwa kehidupan yang didengar atau dilihat atau dialami oleh sang penyair.

Pesawat pun melesat
Menuju entah berentah
Tapi di atas segala entah
Ada pangkuan keabadian

Menilik dari judul sajak tersebut yang tidak jauh waktunya dengan peristiwa 11 September 2001 saat dihancurkannya Menara WTC di Amerika oleh para teroris yang dipimpin oleh Osamah bin Ladin dengan membajak dua buah pesawat, maka saja tersebut merupakan bentuk rasa khawatir bila peristiwa tragis serupa juga menimpanya.

”Bagaimana kalau pesawat ini dibajak
atau digunakan menghantam gedung raksasa?

Permainan pikiran memang telah menjadi bagian dari kehidupan manusia ”Kekhawatiran mungkin, hanya awan hitam pada khayal” katanya.

Namun hal itu dapat memicu manusia untuk berperilaku negatif. Betapa rasa khawatir itu telah menjadikan manusia sebagai makhluk serakah. Karena takut kehilangan, takut kelaparan, takut sengsara dan seabrek rasa ketakutan lainnya membuat manusia memproteksi diri dengan egoismenya tak ingin berbagi kepada manusia sesamanya.

Disisi lain ketakutan juga dapat memicu perilaku positif yaitu kepasrahan kepada Yang Mahatahu segala sesuatu. Seperti tercermin dari kutipan sajak diatas ”Tapi diatas segala entah / Ada pengkuan keabadian”

Sebagai orang asing yang berkunjung ke suatu tempat yang baru dilihat ada kekaguman-kekaguman pada alam sekelilingnya seperti salju dan merpati seperti tertuang dalam sajak “Pertama Datang

Pertama datang aku bertanya
Siapa yang menyapu salju sebelum waktunya
Kelepak merpati di udara
menerjemahkan musim yang layak jenuh
Yang penting zaman berjalan utuh

Sebagai sebuah pertemuan seni/sastra internasional tentu merupakan momen berkumpulnya para sastrawan dari berbagai penjuru dunia.
Berkumpulnya sastrawan dari berbagai belahan dunia berarti membawa warna budaya lokal dari asal masing-masing negara.

Hal menarik terjadi ketika dalam acara ramah tamah saat sang penyair ditanya kenapa dia tidak minum anggur dalam jamuan yang telah disediakan namun hanya menikmati air putih dalam acara tersebut. Peristiwa tersebut dituangkan dalam sajak “Ramah Tamah”

setelah tiba saatnya
gelas-gelas bersentuhan di udara
Ting, bunyinya. Kami semua minum
Persaudaraan memekarkan senyum
“Mengapa kau minum air bukan anggur merah?”
tanya sahabat Karibia
Aku jadi tertuduh. Lalu jawabku:
“Yang kuminum barusan ini
adalah anggur murni
yang belum dicemari warna dan aroma”

Sebagai negara yang pernah menduduki dan mengusung kekayaan alam dan budaya Nusantara selama ratusan tahun ke negerinya, jejak-jejak itu dapat dilihat di museum-museum negeri Belanda yang memang sebagai negara maju sangat terawat dan diperhatikan dengan baik. Persentuhan sang penyair dengan jejak-jejak itu direkam dalam sajak Museum.

Sajak-sajak tersebut seperti menyajikan kembali penderitaan-penderitaan yang dialami oleh Orang-Orang Jajahan yang harus kehilangan harta, harapan, dan diri sendiri sebagai martir untuk kehidupan mewah para penjajah.

Waktukah yang keramat
atau pelaku sejarah?
Tentu saja keringat
yang sesekali lebih mahal dari darah
(Museum I)

Disini museum
Bukan untuk orang kagum
Tapi sejenis sumur untuk mengulur
atau mengukur
Kental darah pada anggur
(Museum II)

Dan pedang algojo itu
tak cuma bikin gagah
juga bikin nurani malu
sampai nanti
ada permulaan sehabis letih
Harus dibayar semua yang ditagih
(Museum III)

Sajak lain yang serupa yang menarik angan sang penyair pada penderitaan masa lalu dimasa penjajahan adalah pada sajak Di Simpang Jalan.

Mungkin yang kumiliki sejenis trauma
yang diwariskan narasi hati yang luka
Mengingat Daendels
jadi teringat kakek moyangku
yang mati kerja rodi
membuat jalan dari Anyer ke Panarukan
Masih di simpang jalan
Aku tegak
tapi tak mampu menghitung lada dan pala
yang dulu diangkut kemari

Memang tidak semua persinggungannya dengan Negeri Belanda mengorek pada luka lama. Ada juga semacam jeda yang membawa sang penyair pada Tuhan, kedamaian, keindahan, persahabatan, simbol kerja keras dan disiplin, mengingat ibu dan kerinduan pada tanah air yang tercermin dalam sajak-sajaknya.

Seperti dalam sajak “Bertemu Gadis Negro” mengguratkan kesan damai dari orang tak dikenal yang ditemui dalam perjalanan: Mata begitu / adalah kedalaman samudra / paduan embun lima benua.

Sedangkan dalam sajak lainnya mengusung tema persahabatan dengan sastrawan lain sebagai orang yang senasib, sama-sama berasal dari dunia ketiga.

“apakah itu kerinduan jiwa dunia ketiga?
Selamat malam!” katamu
“Sekarang sudah pagi, Frank!
kenapa selamat malam?”
“Aku novelis dan kau penyair
Malam selalu ada dalam diri kita
Begitu senja tiba dan senyap cahaya
Kata-kata kita nyalakan sebagai ganti cahaya.
(Frank Martinus Arion)

Dalam hal kedisiplinan dan menghargai waktu, negara semaju Belanda memang patut ditiru. Dalam masalah tersebut sang penyair bisa merasakannya betapa “hanya” terlambat lima detiksaja harus tertinggal oleh kereta dan harus menuggu jadwal kereta berikutnya.
“kita terlambat lima detik”
ujar Joko Pinurbo
Kami hanya bisa tersenyum kecut
dan harus menuggu kereta berikutnya
dengan waktu setengah jam lagi”
“Keterlambatan ini”,
kata seorang tua,
“agar kamu bisa memaknai lima detik”
dengan hukuman setengah jam.

Tentu akan kontras bila dibandingkan dengan jadwal kereta di negeri sang penyair berasal, seperti dalam petikan lagu Iwan Fals: …...kereta tiba pukul berapa? / biasanya terlambat tiga jam.....

Demikian pula soal penegakan aturan atau hukum, tentu bagai bumi dan langit dengan negeri Indonesia raya tercinta sebagaiman tercermin dalam sajak “Percakapan Tak Enak”.

“Sebagai tamu, aku telah berupaya mematuhi aturan. Di mana sepatu menapak di situ gedung kusanjung. Bungkus permen, puntung rokok dan sampah-sampah kecil kuselamatkan ke dalam saku. Kebersihan di sini bukan tulisan di tembok-tembok, tapi memang bagian dari iman”

“Untuk itu periksalah paspormu. Hukum di sini bukan tanah lempung, tak kenal sajak apalagi pantun. Kalau visamu berakhir hari ini, pulanglah! Jangan tunda sampai besok pagi”

Mendapat pengalaman tak mengenakkan tersebut, penyair seolah-olah seperti melayangkan protes sebagaimana dalam lanjutan sajak tersebut: “Moyangmu dulu lebih tiga abad menempati tanahku, dan melakukan segala yang tidak kumau, tanpa paspor dan visa”

Sajak lain yang seolah-olah menyajikanironi atas negeri yang dikunjungi adalah potret seorang pemuda pengemis yang diambil oleh sang penyair lewat kamera puisinya dalam sajak “Pengemis”.

Seolah-olah seperti mengabarkan ironi ditengah kemajuan bangsa Belanda masih saja tersisas Orang-Orang Kalah sebagaimana juga terjadi di negeri-negeri lain baik negara maju maupun berkembang.

musim dingin tapi siang cerah
membuat anak muda itu semakin gagah
Ia mengemis
karena menolak untuk menangis
senyumnya, apa benar minta dikasihani
atau sekedar mengejek orang-orang kaya?
(Pengemis, hal 83)

Meskipun sebagai anggota masyarakat dari sebuah negeri yang pernah dijajah oleh Belanda dengan luka lama yang dapat muncul kembali ketika melihat jejak-jejaknya toh Penyair D. Zawawi Imron tidak mau berlarut-larut dalam dendam kesumat sejarah. Karena sang penyair yakin adanya keadilan Tuhan yang akan membalas segala yang ditabur oleh semua makhluk didunia. Semua yang ditabur anak manusia akan dituai suatu saat dikemudian hari.

Begitulah sikap sang penyair yang religius ini dalam menyikapi apa yang telah terjadi pada bangsanya pada masa lalu dengan menyerahkannya pada pangkuan keabadian, yaitu Tuhan Yang Mahaesa. Rasa dendam dan benci memang tidak dapat mengembalikan penderitaan-penderitaan yang telah dialami bangsanya menjadi sebuah kebahagiaan. Mengubur dendam sejarah, menghapus narasi luka karena adalah sia-sia memberhalakan duka dan derita. Luka dan derita ditanah asing itu akan lebur dengan menyemai cinta di hati yang suci.

Sikap itu tercermin dalam Sajak Refrain di Sudut Dam yang juga sebagai judul buku kumpulan puisi karya penyair ini.

Refrein di Sudut Dam

Amsterdam bagiku
memang sebuah terminal
dengan detik-detik yang terasa mahal
Masa silam dan masa depan
di sini bergumpal
menyesali titik-titik gagal
Matahari yang juga mata waktu
mendesakku menjadi kaca manggala
untuk menerjemahkan cahayanya
menjadi api dan nyala
Di udara menari kapak, senapan, sapu
biola, gendang dan sejenis debu
Menyanyi buku-buku, kertas arsip
hendak turut memutar tasbihku
Jangan dulu! Di sini Amsterdam
Akan kukubur dendam sejarah
Sia-sia memberhalakan derita
Ibu dan kampungku selaksa kilometer jauhnya
tapi terasa berbatas tabir saja
Segenap keasingan akan lebur
dengan menyemai cintake hati salju
Terbayang pohon pinang dekat sumur dulu tempatku mandi
menyuruhku jangan sembunyi
Olle ollang
darahku makin bergelombang.

Buku kumpulan puisi ini ditutup dengan Sajak Di Atas Angkasa yang juga masih membuat was-was pada sang penyair ketika dalam perjalanan pulang ke Indonesia dengan pesawat terbang.

Senyum pramugari yang menyajikan kopi itu
Tak mampu mencerminkan kedalaman laut
E, sorri, kedalaman Maut

Tidak seperti dalam buku kumpulan puisi lain yang pernah penulis baca seperti Di Pamor Badik, dalam kumpulan puisi ini D. Zawawi Imron seperti menyajikan sajak-sajak terang dengan sedikit metafora-metafora yang dipergunakan sehingga tidak sulit untuk dipahami.

Gresik, September 2009

M. Junus Melalatoa: Menguak Tradisi dan Tragedi Nganga Luka Sebuah Negeri Kaya Ragam Suku Bangsa

0 comments
Oleh: Abu Salman

Ketika menikmati Tarian Bumi (IndonesiaTera, 2003) dan Sagra (IndoensiaTera, 2003) saya merasa seperti diajak oleh Oka Rusmini untuk berada di tengah-tengah Negeri 1000 Dewa. Berinteraksi dan menyaksikan parade keindahan dan kesakralan upacara-upacara dan ritual-ritual sebuah tradisi eksotis dan luhur, penuh simbol-simbol pemujaan kepada yang kuasa. Menyaksikan gemulai dan keelokan penari-penari rupawan. Sebuah "profesi" yang banyak diminati gadis-gadis muda di pulau indah itu. Menjadi sebuah simbol, menjadi pusat perhatian baik dalam ranah penghiburan maupun dalam ritual pemujaan.

Disamping mengajak saya untuk berada di tengah-tengah keelokan dan keluhuran sebuah adat, tradisi, dan budaya negeri para dewa di pulau Dewata, Bali sebagai salah satu keragaman etnis dalam pilar-pilar bangunan kebinekaan Republik Indonesia.
Oka Rusmini seolah-olah juga mengajak saya untuk menengok dan merasakan sebuah ketidakadilan yang dikonstruksi oleh masyarakat dalam sebuah tradisi yang masih membeda-bedakan harkat dan martabat manusia dari status sosialnya (kelas/kasta). Ya, Oka Rusmini seperti mengajak saya untuk meneropong dan menggugat Bali dengan sebagaian tradisinya yang menihilkan nilai-nilai cinta dan kemanusiaan.

Demikian pula ketika saya menikmati sajak-sajak dalam "Luka Sebuah Negeri" karya M. Junus Melalatoa (Yayasan Obor Indonesia, 2006). Saya seolah-olah diajak untuk berkelana dan singgah untuk menjadi saksi. Bukan hanya pada sebuah tradisi dan budaya sebuah etnis di Indonesia, akan tetapi berbagai ragam etnis yang menjadi komponen kebinekaan sebuah negeri kita tercinta yang sedang terluka.

Luka Sebuah Negeri seolah-olah menyadarkan saya akan negeri elok dengan kurang lebih 18 ribu pulau dan ratusan etnis yang dengan suka rela hidup berdampingan dalam kesadaran untuk menjadi sebuah bangsa yang besar. Sebuah bangsa besar yang disatukan sejak titik kulminasi pada tanggal 17 Agustus 1945.

Sebagai seorang Profesor, antropolog yang juga penyair atau penyair yang antropolog dengan pengalaman langsung di lapangan dalam rangka melaksanakan kegiatan penelitian atas keragaman berbagai etnis di kepulauan nusantara (etnografi) , M. Junus Melalatoa sangat fasih bicara tentang adat istiadat, tradisi, dan budaya etnis-etnis di Indonesia yang dituangkan dalam sajak-sajaknya.

Dengan rekaman realitas yang didapatnya dari penelitian, sebagai seorang yang berjiwa peka realitas-realitas tersebut "didokumentasikan’ dalam sajak-sajaknya yang indah dan menyentuh. Sajak-sajaknya seolah-olah memanggil-manggil saya untuk mengenal lebih dalam dan menyadari, tidak sekedar mengetahui betapa bangsa Indonesia sangat kaya dengan keragaman etnis yang berbeda adat, tradisi, dan budaya.
Suatu adat, tradisi, dan budaya yang unik yang menunjukkan ketinggian dan keluhuran etnis-etnis yang menjadi pilar-pilar bagi terwujudnya suatu bangsa yang besar. Ketinggian dan keluhuran tradisi dan budaya yang tercermin dari kemuliaan perilaku masyarakat dan pimpinan etnis tersebut.

Setelah menyadari kebinekaan, keluhuran, ketinggian, dan kemuliaan adat, tradisi, dan budaya berbagai etnis bangsa kita yang menempati wilayah terbentang dari ujung barat sampai ke ujung timur, saya seperti di dorong-dorong untuk berempati betapa dibalik itu semua masih ada yang masih harus tercecer dan tersingkir dari sentuhan derap langkah pembangunan, baik pembangunan jasmani atau rohani, fisik atau non fisik yang menjadi komitmen dan kewajiban negara dalam proses mewujudkan rasa keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Mari kita simak rekaman realitas-realitas yang telah dilihat, didengar, dirasakan, direnungkan oleh M. Junus Melalatoa yang sangat fasih dituangkan dalam sajak-sajaknya, mulai dari ujung paling barat, Aceh.

Sosok jasad beku ini
yang tengah dinanti anak-istri
ketika adzan magrib bergema
tak di dengarnya lagi
padahal ketika lahir kalimah suci itu
berulang di kumandangkan ke telinganya
oleh orang tua
sesudah senja sosok itu tertelan gelap malam
perang mengiringi nasibnya menjadi temaram
(Catatan Harian Anak Negeri, Luka Sebuah Negeri, Obor, 2006)

Rekaman realitas pergolakan di Aceh yang meminta korban dari pihak mana saja telah menyisakan nyeri bagi sanak saudara yang ditinggalkan korban-korbannya. Dan perang itu juga menyisipkan teror dibenak siapa saja, seolah-olah esok hari tiada harapan untuk hidup:

Seiring datangnya senja daun-daun menjadi layu
Sebagaimana layunya dedaunan itu
Hati ini pun ikut layu
Bersama geletar malam
Mengalir pula tanya
Apakah diri ini masih di beri waktu
Esok hari
(Catatan Harian Anak Negeri, Luka Sebuah Negeri, Obor, 2006)

Perang itu juga membuat "ORANG-ORANG terusir dari kampung kesayangan / - terusir oleh dukanya / kampung yang dulu punya segala / punya harga diri, kasih sayang / punya tertib sopan dan setia kawan / kini konon tergerus pupus". Ya perang itu telah menjadi hantu yang meneriakkan "jerit cericit" dan "kicau pilu bertalu-talu".

Dari Aceh, M. Junus Melalatoa seperti mengajak saya untuk menelusuri pedalaman Kalimantan dan singgah menemui kesederhanaan dan kemuliaan orang-orang yang ditemui dalam penelitian sekaligus yang diteliti yang pada akhirnya mereka saling terpaut untuk menjadi sahabat.

Betapa banyaknya sahabatku
satu-satu kuhitung nama
semerbak: Peledek, Pelukin, Ire, Iban
satu-satu kuingin wajah
indahnya sekeliling
satu-satu ku kenang dirinya
betapa mulia hati
(Sahabatku, Luka Sebuah Negeri, Obor, 2006)

Sebagai sahabat ia sangat berempati ketika melihat ketidakadilan yang menimpa para sahabatnya. Bagaimana orang-orang yang menjaga alam yang telah diwarisi dari generasi ke generasi justru diberikan stigma sebagai kelompok yang menjadi penyebab rusaknya alam. Bukannya segelintir manusia-manusia serakah yang memeliki Hak Pengrusakan Hutan (HPH), "DEGAM-DEGUM hutang ditebang / berkeping-keping kayu melayang / detak cabang rapuh jatuh / terhembus rubuh ke bumi" dan siapakah mereka?

Kalian dengar kabar tentang
Pitnah yang kejam
Kambing hitam
rusaknya alam
bumi yang dipelihara mati-matian
untuk sekedar tidak mati
(Kenyah Long Merah, Luka Sebuah Negeri, Obor, 2006)

Meskipun sebenarnya keseimbangan alam selalu di jaga. Bukankah manusia "tradisional" menggunakan alam hanya untuk eksis dan survive? Bukan untuk menumpuk kekayaan, menumpuk modal, memenuhi ambisi yang tiada habis-habis untuk diwariskan anak cucu, sampai tujuh turunan kalau perlu. Seperti yang dilakukan dan diimpikan "orang datang dari jauh / dengan salam takzim" dan penuh adab mereka, para penjaga alam merentangkan jawaban yang diakhiri dengan senyuman.

Tetapi ketika ku dengar
Kepak sayap enggang
Titik embun dari ujung daun
ketipak kaki kijang
yang tak pernah mematahkan ranting
maklumlah aku
siapa kau
(Sahabatku, Luka Sebuah Negeri, Obor, 2006)

Masih di pedalaman kalimantan, M. Junus Melalatoa menulis diatas tulisan – tulisan realitas tentang peradaban suku Punan yang memiliki peradaban sebaya China.

Punan tua – mungkin sebaya buah tengkawang
Setidaknya setua peradaban tembikar Cina
Karena di sana ad guci suci
Dari dinasti sebelum Masehi
Di barter dengan batu bezoar
(Punan Tua II, Luka Sebuah Negeri, Obor, 2006)

Peradaban yang tinggi yang dimiliki salah satu suku bangsa kita dengan keunggulan-keunggulannya dalam "pergaulan" antar bangsa harus habis di kikis kesombongan dan keserakahan modernitas.

Keunggulan komparatif zaman nirkela
kini ditebas habis oleh arogansi dungu
akhirnya turunan Punan Tua pun jadi transmigran
terlunta dalam keterasingannya sendiri
(Punan Tua II, Luka Sebuah Negeri, Obor, 2006)

Dari menoleh rasa kebanggaan yang telah jadi kenangan di pedalaman Kalimantan, saya diajak untuk menengok keramahan bahasa kasih sayang dan kesakralan upacara di Sumba. (Bersambung)

Anglingdarma

0 comments
terngiang sebuah derai tawa
ketika nanar matanya menatap nyala
menembus pada sebuah peraduan, pada suatu peristiwa
(yang nyaris sebuah bahagia)

pada hati yang kalut, berkabut
tidaklah cukup sebuah besaran cinta
sekuku hitam bagi belahan jiwa

pada hati yang cemburu, diburu
sepasang cicak mencipta
sebuah prahara

awan kepedihan bergelayutan
di langit hati
Prabu Malawapati

bunga-bunga di taman istana
tersengal oleh asap hitam kemuraman
dihembus nafas angin

gemeretak sisa bara
menyisa duka di sudut mata
menebar bisik sunyi di relung hati

ah, dinda, dinda, tidakkah hidup sebuah karunia
hingga kau lebih memilih sebuah bencana
memanggang cinta kita di tengah bara

langit pekat selimuti negeri Malawapati
ada yang sunyi, ada yang sendiri
terbawa arus dalam sebuah kepergian


Juli 2009

Sebuah Nama Pada Sebuah Jejak Sajak

1 comments
~ siwur ~

kau selalu bersikukuh untuk tak menyebut
namamu di setiap kita bertemu dalam
perjalanan malam-malam itu

apa arti sebuah nama” kilahmu
sambil mengutip pepatah
tak berdasar itu

“bukankah banyak yang percaya sebuah
nama adalah sebuah doa”
pikirku

rupanya kau ingin mengekalkan misteri
dari namamu padahal tawa kita
begitu akrab

“karena kau tak akan percaya bila kusebut nama”
kau bertaruh sambil
bersuara luruh

dan ketika itu kau sebagai pemenang karena berkali-kali
terlontar kata ”benarkah?” untuk memastikan
kau menyebut namamu

mungkin ada gurat kecewa
ketika terdengar aku
tak percaya

demikianlah ternyata, kota kita tak begitu luas
ketika kutemukan jejak namamu
yang dulu pernah berhampir di benakku

pada sebuah jejak sajak
yang menarik-narik angan
pada sebuah tualang

ketika mencari seorang belah hati
di kemudian hari hanya untuk
tersakiti


Gresik, 6 Juli 2009

Orang-Orang Percaya

0 comments
Kau tak menyebut Nama-Ku, kau menyebut namamu
(Gatoloco, Goenawan Mohammad)




mereka menyebut kami
salah jalan,
kami menyebut mereka
sungsang
mereka mengatai kami
mengada-ada
kami mengatai mereka
tak tahu kedalaman
mereka menghakimi kami
sesat
kami menghakimi mereka
"wow hebat"

gelap adalah bukan karena tak ada cahaya tapi gelap
adalah ketika cahaya kami tidak sama dengan cahaya mereka

sesat adalah bukan karena jalan kami tak menuju kepada Nya tapi
sesat adalah ketika jalan kami berbeda dengan jalan mereka

begitulah dunia kami berpercaya
seperti telah menjadi kaki dan tanganNya
seperti telah menjadi mata dan telingaNya

begitulah dunia kami berpercaya
seperti iklan sebuah komoditi di televisi

ketika semua berkata ”kamilah yang paling utama, hanya kami yang paling........”


Gresik, 2009

Musim Menyebut-Nyebut Kebaikan

0 comments
ketika telah tiba musim menyebut-nyebut kebaikan-kebaikan sendiri sungguh dia menjadi ragu tentang kebenaran ajaran untuk melupakan kebaikan-kebaikan dan mengingat-ingat ketidakbaikan diri sendiri.

dengan pikiran masih dalam keheranan dia melihat mereka yang menyebut-nyebut kebaikan-kebaikan diri sendiri mereka menggunakan topi-topi yang mereka kenakan dipanggung-keramaian untuk menahan panas terik gunjingan.

lalu, dia mencatat ada berbagai merek topi terkenal yang mereka kenakan mulai dari topi merek: brengsek, sialan, .........dan beberapa merek terkenal berbahasa lokal dan asing: pukimak, damned, bastard...........

ah, sungguh semua sangat pas, serasi, dan cocok dengan topi-topi yang mereka kenakan sambil membual tentang penderitaan-penderitaan yang tak mereka rasakan dan janji-janji yang segera mereka lupakan.

Gresik, 14 April 2009



Ilustrator: Ika Amalia Pratiwi