Pages

Friday, April 18, 2008

Ziarah

berduyun duyun kami datang dari segala penjuru mata angin menuju puncak peradaban masa lalu ingin menziarahi jejak jejak yang terukir pada nisan nisan berbatu.

lalu, kami lambungkan doa mantra dalam jejal lingkar tersakral mengelilingi dinding dinding karomahmu. mendamba jawab segala tanya, harap segala cinta hanya tentangMu yang telah purba dalam dada meledak ledak hantui sukma.

mungkin terselip pula diantara lipatan lipatan doa mantra zarah demi zarah mimpi mimpi masa nanti berharap seperti melankoli desau masa lampau dengan kebesaran, keagungan, dan kesalehan yang engkau bangun dengan jatuh bangun derita diri.

sedangkan negeri kami kini menawari euphoria yang membuat kami lupa meniti waktu sebagaimana detik-detikmu yang penuh semak dan onak mengharu biru rindu rasamu yang bara.


April 2008

No comments:

Sepetak Sajak

Kau tidak menyebut nama-Ku
kau menyebut namamu

(Gatoloco, Asmaradana, Goenawan Mohammad)

----

aku ingin mencintamu dengan membabi buta-
dengan sebotol racun yang diteguk Romeo
tanpa sangsi yang membuat kematiannya jadi puisi

aku ingin kau mencintaiku dengan membabi buta
dengan sebilah belati yang ditikamkan Juliet
ke dada sendiri yang membuatnya jadi abadi

(Aku Ingin, Autobiografi, Saut Situmorang)