Pages

Sunday, October 2, 2011

Fragmentasi Tuhan 1

(1)

Kami adalah kanak-kanak yang membimbing anak-anak, yang selalu berbicara tentang jiwa dewasa namun bertingkah seolah tak pernah dewasa-dewasa.

(2)

Kami adalah pendoa yang pendosa, melafalkan sebuah asma seolah takut dan tak berharap apa-apa namun menyimpan harap di sudut tawa jatuhnya sebuah karunia.

(3)

Kami adalah pemanja indera yang masih saja seringkali luput menyebut-nyebut sebuah asma karena terlena disibukkan oleh sesuatu yang harus kami pandang dengan mata, kami dengar dengan telinga, dan kami kecap dalam rasa.

(4)

engkaukah angkuh pemegang teguh keraguan yang membuihkan kebenaran-kebenaran yang engkau anganinginkan dengan teriakan-teriakan menikam kepada mereka yang engkau anggap tidak sepaham dan menyimpang atau bahkan dengan tangan kekuasaan yang menghancurkan. demikiankah pengakuan kemuliaan engkau tanamkan. demikiankah pengakuan kebenaran engkau dapatkan, demikiankah ketebalan keyakinan engkau hasilkan. demikiankah simpati tuhan engkau petikkan.

Semarang, Oktober 2011

1 comment:

Raditya winata said...

Salam hangat, saya pembaca baru, mohon maaf jika lancang,...saya suka diksi mas dalam "Fragmentasi Tuhan", ada kedalaman dalam maknanya...ada ketaksaan dalam pemahamannya. Salam Hangat, dari sahabat...tetap berdegup mas di tengah sepinya, negeri tanpa sastra.

Sepetak Sajak

Kau tidak menyebut nama-Ku
kau menyebut namamu

(Gatoloco, Asmaradana, Goenawan Mohammad)

----

aku ingin mencintamu dengan membabi buta-
dengan sebotol racun yang diteguk Romeo
tanpa sangsi yang membuat kematiannya jadi puisi

aku ingin kau mencintaiku dengan membabi buta
dengan sebilah belati yang ditikamkan Juliet
ke dada sendiri yang membuatnya jadi abadi

(Aku Ingin, Autobiografi, Saut Situmorang)