Pages

Tuesday, February 12, 2008

Pelangi Senja Hari

Buat Pelangiku


senja dari balik jendela kaca
guyuran hujan telah reda
senja yang indah
hati yang gelisah
senja yang basah
benak yang kembara tak tentu arah

menelusuri jalan pulang
masih terasa hangat
sisa-sisa saat perpisahan
ketika engkau harus menjauh kembali
meski tak pernah bisa pergi
selalu tangis, tawa, riang, manja, dan celotehmu
mencengkeram hati

seorang gadis kecil
berlari-lari kecil melonjak berteriak
jari kecilnya menunjuk langit:
”ada pelangi”
lalu kudongakkan kepala

kulihat lengkung pelangi
terbelah dua diatas kota

ah, pelangi
kemanakah warna-warnimu
hingga jarak membelah memisahkan keindahanmu
seperti hatiku yang terbelah
merindukan pelangiku yang jauh
terpisah jarak gelisah



Jan-Feb 2008

No comments:

Sepetak Sajak

Kau tidak menyebut nama-Ku
kau menyebut namamu

(Gatoloco, Asmaradana, Goenawan Mohammad)

----

aku ingin mencintamu dengan membabi buta-
dengan sebotol racun yang diteguk Romeo
tanpa sangsi yang membuat kematiannya jadi puisi

aku ingin kau mencintaiku dengan membabi buta
dengan sebilah belati yang ditikamkan Juliet
ke dada sendiri yang membuatnya jadi abadi

(Aku Ingin, Autobiografi, Saut Situmorang)