Pages

Thursday, March 27, 2008

Khalifah

pada detik-detik penuh ngilu rindu memeluk memesraiMu aku persembahkan kepasrahan wajah-wajah jiwa yang saling bertegur dan bertutur sapa dan tak jarang seringkali beradu kata dan tajam menikam dengan sinar mata.

Inilah wajah-wajah jiwaku penuh coreng moreng duka kehidupan merangkak menghiba dalam sembab mata dan liirih suara rebah dihadap kubah tersungkur di hampar sajadah.

sunyiku mengharap kasihMu tlah melahirkan tangisMu memenuhi rongga dada meledak di jerit suara di pagi buta dengan benderang caya penuntun jiwa.


Maret 2008

Wednesday, March 26, 2008

Berakar Legam

Bangunan kata-kata dalam kepalamu kokoh menjulang menikam menara sepi berakar legam pada janggutmu coba menembus dimensi tak tertandingi.

Apalagi yang tak kau yakini selain susunan huruf-huruf telunjuk pada Matahari yang kau cengkeram dan lemparkan dengan membabi buta.

Sedangkan cahaya matahari dalam dadamu tak kau hirau untuk menerangi jiwa menuju Matahari.

Sampai kapankah kau biarkan ketenangan kami mengalir sewajarnya tanpa riuh riak dan kecipak ombak oleh lemparan kata-kata dan sorot tajam matamu memburu.


Maret 2008

Wednesday, March 5, 2008

Terdampar di Tanah Asing

pada suatu ketika terlontar aku dari rahim sunyi terdampar ke sebuah takdir negeri tempat dimana aku tumbuh mengeja dan mengkais-kais hidup bersama zaman

pada malam-malam muram aku berteriak sebagaimana zaman berontak aku berlagak sebagaimana zaman bertindak aku marah sebagaimana zaman memerah aku menghujat sebagaimana zaman mengumpat aku berduka sebagaimana zaman berkusut muka aku damba sebagaimana zaman mencinta aku terkejut sebaimana zaman bersungut-sungut aku tertawa sebagaimana zaman gembira

ketika t’lah serak aku berteriak muak aku berlagak penat aku menghujat lama aku berduka sirna aku damba takut aku terkejut lena aku tertawa berdenting suara-suara mungkin adalah jiwa atau entah siapa menikam dengan kata tanya tak terduga “siapakah aku?”

sejak itu dalam malam-malam panjang berderet-deret permohonan aku semakin jauh terlempar dan terdampar pada sebuah negeri semakin tak kukenali dengan masih tertikam kata tanya siapa aku.

Maret 2008

Tuesday, March 4, 2008

Semesta Hitam

sepasang mata pejam memandang
lengkung cakrawala semesta
langit hitam
awan hitam
matahari hitam

sepasang mata hitam menikam
rimba raya semesta
pokok-pokok hitam
cabang-cabang hitam
ranting-ranting hitam
daun-daun hitam
setapak ruang hitam

sepasang mata pejam yang hitam
memandang
menikam
dalam-dalam ke dalam
hanya
hitam
hitam
hitam
dalam
tengadah tangan


Kota Soto, Feb-Maret 2008

Sepetak Sajak

Kau tidak menyebut nama-Ku
kau menyebut namamu

(Gatoloco, Asmaradana, Goenawan Mohammad)

----

aku ingin mencintamu dengan membabi buta-
dengan sebotol racun yang diteguk Romeo
tanpa sangsi yang membuat kematiannya jadi puisi

aku ingin kau mencintaiku dengan membabi buta
dengan sebilah belati yang ditikamkan Juliet
ke dada sendiri yang membuatnya jadi abadi

(Aku Ingin, Autobiografi, Saut Situmorang)