Pages

Monday, September 22, 2008

Press Release:

PENOLAKAN SAUT SITUMORANG
ATAS KHATULISTIWA LITERARY AWARD



During times of universal deceit,
telling the truth becomes a revolutionary act
-George Orwell




Menanggapi beredarnya Long-list Khatulistiwa Literary Award (KLA) 2008 yang memasukkan buku saya "otobiografi" ([sic] Yogyakarta, November 2007) sebagai salah satu 10 besar kategori Puisi, dengan ini saya nyatakan menolak pengikutsertaan buku saya tersebut. Adapun alasan saya adalah sebagai berikut.

1. Sejak awal saya menganggap keberadaan KLA tidak layak dan tidak representatif bagi kesusasteraan Indonesia karena dasar dan sistem penilaian karya tidak pernah jelas, inkonsisten, improvisasi, dan tidak profesional.

Beberapa cacat fatal dapat disebutkan:

a. Panitia maupun juri melanggar aturan yang mereka buat sendiri.
Contoh: Menangnya buku puisi Goenawan Mohamad, "Sajak-sajak Lengkap", pada KLA perdana, merupakan pelanggaran terang-terangan atas aturan yang sudah diumumkan panitia sebelumnya bahwa karya kompilasi (yang sudah pernah diterbitkan terdahulu) tidak bisa diikutkan dalam penilaian, dan buku yang diterbitkan oleh Metafor Publishing (milik bos KLA, Richard Oh) juga tidak akan diikutkan dalam penilaian. Kenyataannya, "Sajak-sajak Lengkap" Goenawan Mohamad yang merupakan gabungan puisi lama dan baru dan diterbitkan Metafor Publishing pula, terpilih sebagai pemenang!

Hal ini terulang pada KLA 2005 dimana buku puisi Iman Budhi Santoso,
"Matahari-matahari Kecil", yang berisi 100 puisi pilihan yang merupakan trade-mark karya kompilasi penerbit Grasindo, masuk dalam 5 besar penilaian!

Dan hal ini terjadi lagi pada buku puisi saya, "otobiografi" ([sic] Yogyakarta, November 2007). Buku ini jelas-jelas berisi puisi lengkap saya yang sebagian pernah terbit dalam "saut kecil bicara dengan tuhan" (Bentang Budaya, 2003) dan "catatan subversif" (BukuBaik, 2004)!

b. Panitia dan juri tidak profesional, bekerja asal-asalan dan ngawur. Contoh: Dalam KLA 2005, buku puisi penyair cilik, Abdurahman Faiz (saya lupa judulnya) semula muncul dalam daftar 10 besar, tapi setelah adanya sejumlah protes dan kritik, tiba-tiba nama Abdurahman Faiz dihapus begitu saja, dan segera diganti nama dan buku lain. Terlepas dari protes atau kritik yang ada, layakkah sebuah karya yang sudah dinilai juri kemudian diumumkan kepada publik, lantas ditarik begitu saja tanpa pertanggungjawaban juri dan penjelasan panitia secara publik?!

c. Kriteria buku yang dinilai tidak jelas: apakah buku yang ditulis secara perorangan atau antologi-bersama? KLA 2008 ini, misalnya, memasukkan sebuah antologi-puisi- bersama di posisi 10 besar!

d. Konsep KLA rancu dan amburadul: apakah berupa anugrah (award) atau lomba? Jika penghargaan, mengapa panitia dan juri tidak proaktif mencari buku untuk dinilai, tapi malah secara pasif menunggu penerbit/ penulis mengirimkan bukunya kepada panitia, lengkap dengan batas waktu sebagaimana lazimnya syarat sebuah lomba? Padahal, sejauhmana pengumuman KLA dapat diakses para penulis/penerbit yang bertebaran di seluruh Indonesia? Alhasil, hanya mereka yang mengirim yang akan dinilai, yang tidak mengirim akan luput.

Nah, anehnya, buku "otobiografi" TIDAK pernah dikirimkan oleh Penerbit maupun oleh saya sebagai penulisnya kepada Panitia KLA (sebagaimana yang mereka syaratkan) tapi kok bisa muncul di 10 besar?!

e. Kerja penjurian hanyalah upaya untuk membuat legitimasi bahwa Panitia KLA sudah melakukan mekanisme penilaian yang benar, padahal dasar penilaian dan proses penjurian lebih tepat disebut sebagai sebuah skandal! Contoh: Tidak ada pertemuan antar-juri, bahkan di antara mereka tidak saling tahu, serta tidak ada pertanggungjawaban apapun dari juri bagi karya yang terpilih/pemenang!

Contoh lain, seorang calon juri di Yogyakarta mengundurkan diri karena sistem penilaian yang diterapkan Panitia KLA sangat tidak masuk akal. Ia dihubungi sekitar tanggal 25 Agustus 2008 oleh Panitia KLA di Jakarta, yang memintanya menjadi Juri Tahap I dengan honorarium 1 juta rupiah. Anehnya, daftar buku yang akan dinilai sudah ditentukan oleh panitia (mungkin berdasarkan buku yang dikirim penulis/penerbit? ), padahal posisi yang ditawarkan adalah Juri Tahap I yang dalam konteks penilaian lebih tinggi posisinya ketimbang panitia. Lha, kok panitia yang menentukan lebih dulu? Gawatnya, hasil penilaian harus sudah sampai dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Logikanya, seorang juri tentu mesti baca buku yang dinilainya. Namun dengan waktu yang mepet dan honor 1 juta rupiah, mungkinkah seorang juri dapat membaca atau membeli buku-buku yang hendak dinilainya? Jikapun diasumsikan ada juri yang menyempal, misal mengusulkan buku yang tidak ada dalam daftar, bukankah suara usulannya itu akan bersifat "minoritas" belaka, sebab juri lain bisa saja tak mengetahui buku tersebut? Apalagi penilaian berupa tabulasi, penjumlahan angka dari dewan juri, sebagaimana sistem "Idol" di televisi. Pada akhirnya, itu semua hanyalah semacam fait accompli sebab skenario sebenarnya sudah disiapkan dan juri hanyalah alat legitimasi! Tak sampai sebulan sejak tanggal 25 Agustus 2008 kita semua tahu Long-list KLA 2008 dikeluarkan, berarti para juri telah sanggup merampungkan tugas membaca dan menilai buku-buku sastra di Indonesia yang terbit kurun waktu satu tahun! Hebat!

2. Di tengah dekadensi kondisi Sastra Kontemporer Indonesia lantaran merajalelanya para petualang/dilettant e sastra dengan politik uangnya, perkoncoan, manipulasi isu-isu kesusasteraan Indonesia atau isu bangsa secara umum di luar negeri atau kepada sponsor baik asing maupun domestik, yang kemudian dilegitimasi dengan "niat suci demi Sastra" padahal tidak sama sekali –– sebagaimana dengan jelas diperlihatkan pada cara kerja Panitia KLA seperti yang saya elaborasikan di atas, atas bobroknya sistem, moral dan pertanggungjawaban Panitia KLA, sponsor dan juri-jurinya itu, maka dengan ini saya MELARANG KERAS KARYA SAYA "otobiografi" ([sic] Yogyakarta, November 2007) DIIKUTSERTAKAN DALAM KHATULISTIWA LITERARY AWARD!

3. Kepada kawan-kawan sastrawan Indonesia, marilah kita pikirkan bersama kondisi Sastra kita yang sudah rusak oleh hadiah-hadiah sastra yang tidak jelas maksud-tujuannya seperti KLA dan oleh peristiwa-peristiwa sastra semacam Teater Utan Kayu International Literary Biennale dan Ubud Writers and Readers Festival. Apakah absennya sebuah tradisi Kritik Sastra yang baik dan benar lantas harus membuat Sastrawan Indonesia menjadi tidak kritis! Jangan cuma karena uang dan ambisi untuk "go international" kita jadi lupa daratan!



Yogyakarta, 20 September 2008

Tertanda,
SAUT SITUMORANG

Ikut mendukung:
Penerbit [sic] Yogyakarta

[sumber: milist apresiasi sastra]

Tuesday, September 16, 2008

KataNya

ada yang
rindu
menyatu
dalam
kalbu

mengalir
dalam
darah

mendzahir
dengan
wajah

dia yang
bertanduk
tertunduk

lesu
terbelenggu
mengharap
saat-saat putih
berlalu

September 2008

Olok-Olok

Saya pernah berpikir bahwa saling mengolok dan mengejek itu adalah pekerjaan anak -anak kecil. Kebiasaan seperti yang pernah dulu saya lakukan bersama-sama dengan teman-teman kecil lainnya di kampong ketika saya masih di dunia yang banyak menikmati suasana ceria. Bila ada anak yang suka menangis, maka akan kita olok-olok dengan sebutan “gembeng”. Bila ada anak yang berkulit hitam akan kita sebut ”ireng” atau bila ada anak yang berbibir memble akan kita olok-olok dengan sebutan ”ndomble” dan olok-olok lainnya yang seringkali membuat anak yang mendapat olok-olok tak jarang jadi marah, menangis, lalu laporan ke sang ibu. Lalu kita pun berlarian menghindari dampratan. Sedangkan saya sendiri sering mendapat olok-olok dari teman-teman kecil saya dengan sebutan nama salah satu agama yang dipeluk oleh masyarakat Indonesia. Hal tersebut karena saya dan ayah saya sering mengunjungi tempat ibadah yang berbeda dengan hampir seluruh tetangga di kampung.

Namun ternyata dugaan saya diatas salah. Bahwa olok-olok tidak hanya menjadi monopoli anak-anak. Saya beberapa kali menyaksikan program di salah satu stasiun televisi swasta sekumpulan orang-orang dewasa berpakaian rapi dengan atribut-atribut tertentu menempel di baju yang berwarna-warni yang menjadi simbol komunitas mereka saling mengolok, saling menyerang, saling menjatuhkan, saling ”ngeles”, saling membela diri, saling pamer seolah-olah komunitasnyalah yang telah berbuat banyak hal buat orang banyak, sedangkan kelompok lainnya enggak berbuat apa-apa. Pendeknya mereka seperti berjualan kecap yang nomor satu, tak ada duanya. Tentu dengan berbekal kamahiran berbicara. Ah saya jadi muak, lalu bertanya apa ini sekumpulan anak-anak yang saling olok-olok? Hanya substansinya saja yang berbeda. Padahal nama acaranya sungguh keren dan ilmiah tapi isinya seperti debat kusir yang tiada juntrungnya. Apa tidak ada cara lain yang lebih elegan untuk menunjukkan ”kenomorsatuan” komunitas mereka dan menarik simpati masa? Entahlah

Friday, September 5, 2008

Suku Terakhir

Menikmati angin semilir yang lewat melalui celah-celah jendela kaca yang agak terbuka dalam laju perjalanan bus antar kota dalam provinsi yang sedikit sarat penumpang membuat aku sedikit bisa menikmati suasana pagi hari ditengah himpitan para penumpang lainnya. Dari dulu aku memang paling tidak menyukai momen dalam perjalanan baik di kendaraan umum atau kendaraan pribadi, kecuali sudah sampai tempat tujuan baru lega rasanya.


Sambil sesekali menoleh ke kanan dan ke kiri, menangkap pandang apa yang bisa ditangkap dalam perjalanan mulai dari pohon-pohon, rumah-rumah, makam, kendaraan-kendaraan, tambak, sawah-sawah, kolam, masjid, rumpun ilalang, bunga-bunga liar yang indah yang kesemuanya itu seringkali memicu aku untuk memunculkan imajinasi-imajinasi lain dalam benak yang kadang membuat aku merasa sedih, gembira, rasa kasihan, tertawa, tersenyum, memanjatkan doa atau biasa-biasa saja yang tentu saja semua itu merupakan respon dalam hati. Seandainya semua itu terekspresikan tentu aku dipikir gila oleh orang-orang.


Tidak seperti biasa pagi itu ketika menoleh ke sebelah kanan kedua bola mataku menangkap sebuah bendera yang melambai-lambai lambat dengan banyak bagian-bagian yang terlipat karena hanya salah satu sisi saja yang ditali pada tiangnya (eh tentu saja salah satu sisi yang ditali pada tiang, kalau kedua sisi namanya bukan bendera tentunya ya, jadi spanduk he..he..). Karena bagian-bagian bendera banyak terlipat dari kejauhan aku sempat mengeja susunan huruf-huruf yang terdiri dari huruf T, huruf A, dan huruf I pada bendera tersebut. Setelah dekat dan melewati bendera tersebut ternyata ada tulisan salah satu nama partai politik. Huruf-huruf yang aku lihat tersebut ternyata adalah suku kata terakhir dari kata partai yang suku kata awalnya tak tampak wajah hurufnya karena bendera partai tersebut agak terlipat.


Setelah peristiwa tersebut benakku pun tiba-tiba mengkaji dan berimajinasi, ternyata saya baru sadar bahwa kata partai ternyata terdiri dari dua suku kata. Salah satu suku katanya tepatnya suku kata yang terakhir yang sempat aku baca dalam perjalanan tersebut (mohon maaf) ternyata pengucapan suku kata terakhir tersebut menurut aku seperti mengarahkan kita kepada sesuatu yang dianggap sampah, jorok, atau apalah dan tentunya bila segala sesuatu yang diasosiakan dengan kata tersebut merupakan hal yang tidak menyenangkan, mengecewakan umpatan dan sederet makna negatif lainnya.


Lalu akupun bertanya-tanya dalam hati, mungkinkah memang demikian adanya partai-partai yang ada dinegeri kita ini. Hanya menerapkan suku kata terakhir pada kata partai. Dengan janji-janji dari pilu ke pilu dari pemilu ke pemilu selalu saja hanya sebuah janji kosong. Bila telah tercapai keinginan mereka untuk berada di tampuk kekuasaan, janji-janji yang digembar-gemborkan itupun dilupakan begitu saja, hanya kata-kata sampah dan yang berada di tampuk kekuasaan sebagaimana telah kita saksikan bersama baik dimedia cetak dan media elektronik sangat mengecewakan kita yang mengolah harapan memiliki negeri yang bersih. Namun apa daya suku kata terakhir lebih menjadi fakta sehari-hari yang dilakonkan para manusia. Ah, hidup memang adalah perebutan. Perebutan kekuasaan, perebutan pengaruh, perebutan hegemoni, dan perebutan-perebutan lainnya yang dapat mempertahankan ego manusia. Hidup adalah perebutan.

Salah Ucap

Sehabis menikmati buka puasa pertamaku, aku meledakkan tawa lepas di telepon genggam. Tertawa dan tiba-tiba mengingatkan aku pada sesuatu makna sehingga sekaligus merenungkan salah ucap dari sebuah suara lucu yang berada di jarak antar kota antar provinsi. Sebuah suara lucu yang sering aku rindukan kebersamaannya.

Petang itu melalui Nokiaku yang sudah retak casingnya aku lemparkan sebuah pertanyaan setelah bertanya beberapa pertanyaan lain kepadanya seperti sudah belajar huruf? Sudah belajar angka? Sudah (di)baca(kan) cerita?

“Adik kok enggak puasa sih?
“Iya, Yah, sudah berduka puasa” jawabnya seolah merajuk.

Salah ucap yang mengundang tawa sekaligus tiba-tiba membuat aku merenung. Tertawa karena dari kata berbuka menjadi berduka yang secara makna harfiahnya berbeda sangat jauh, tapi dari segi susunan kata-katanya seperti tetap indah dan puitis karena mengandung asonansi a pada berduk(a) puas(a).

Merenung karena dari kata-kata yang salah ucap itu tiba-tiba aku teringat pada sebuah peringatan rasul bahwa banyak orang yang berpuasa tetapi hanya mendapatkan lapar dan dahaga saja. Bukankah itu merupakan kedukaan dalam puasa, juga kedukaan dalam hidup bila susah payah kita melaksanakan puasa tapi pahalapun tak kita dapatkan apalagi yang lebih penting yaitu ridhoNya.

Bagiku menahan lapar dan haus memang suatu perjuangan yang tidak mudah. Apalagi membaca dan menahan batin dari segala kekacauannya merupakan perjuangan yang lebih ekstra keras lagi. Salah ucap itu telah membuat aku bertanya pada diri sendiri apakah aku termasuk yang berduka dalam puasa karena tidak mendapatkan apa-apa dalam puasaku, hanya mendapatkan lapar dan dahaga saja? Semoga Allahu Subhanahuwata’ala mengampuniku, menolongku, dan membimbingku.

Ajari Sesuatu

Tuan
ajari sesuatu
aku yang tak aku


kosong
pamrih
harap
nafi
perih
tak tiarap


Tuan
jangan tatap
aku yang aku


dengan
tembuspandang
cakrawalaMu
karna tak ada apa
apa dengan aku?


Tuan
ajari sesuatu
aku yang tak aku

Selamat Berduka Puasa

dari lapar
ke lapar
masih saja
tersisa
gusar



laparku
yang sehari
tak sanggup
merantai
angan purba


dahagaku
cuma sehari
tak mampu
menyiram
panas purba


diamku
hanya sehari
tiada daya
diamkan
hawa purba


dari lapar
ke lapar
selalu
tertinggal
Gusar

Sepetak Sajak

Kau tidak menyebut nama-Ku
kau menyebut namamu

(Gatoloco, Asmaradana, Goenawan Mohammad)

----

aku ingin mencintamu dengan membabi buta-
dengan sebotol racun yang diteguk Romeo
tanpa sangsi yang membuat kematiannya jadi puisi

aku ingin kau mencintaiku dengan membabi buta
dengan sebilah belati yang ditikamkan Juliet
ke dada sendiri yang membuatnya jadi abadi

(Aku Ingin, Autobiografi, Saut Situmorang)