Pages

Tuesday, December 23, 2008

Rumah Cinta

~ Met ultah Yank (16 Des) ~


entah sampai dimana buih-buih
kata-kata kita mengembara
mungkin serupa puisi
melangit bersama jiwa-jiwa
pencinta

di sini
di sebuah ruang dan waktu
yang entah
pernah kita berbincang
dalam derai tawa panjang
tentang rumah impian cinta
sebuah tempat teduh
sederhana
melingkar tak bersudut
serupa cincin tersematkan
dengan jari manis sebagai kaktus
pada taman bebunga ditengah-tengahnya

aku dan engkau menjadi kaca
saling bercermin dan menjaga

bukankah itu satu dari tak banyak
mimpi-mimpi kita tentang suatu masa
menanti kita menuju kepadanya?

akan kita bangun dia
persis serupa
tak kurang dan tak lebih
sedikitpun wujudnya

namun, entah sampai kapan buih-buih
kata-kata kita menjelma
serupa puisi mengangkasa bersama
para pencari menyelami nyeri

sedangkan jarak masih saja
menebar resah
membuat tabir pemisah
hingga hari-hari kita
ditingkapi rasa gelisah
dan bersalah

inilah sebuah jarak
menunggu kita pijakkan jejak-jejak kita
dengan hati bersenandung madah cinta
sebagai puisi perjalanan menuju takdir pertemuan


Desember 2008

3 comments:

Bintang said...

puisi yg bagus awie.. salam kenal yaa..

Arsyad Indradi said...

Walau pun konpensional,ungkapan sederhana, diksinya bersahaja namun punya kekuatan puitis. Aku suka puisi seperti ini. Sajak atau berupa tulisan sastra apa saja adalah untuk pembaca. Apalah gunanya jika tulisan cuma untuk diri sendiri ? Terus berkarya. Salam sastra.

Fiya RedApple said...

Saya setuju dgn Mr Arsyad.
Saya juga suka puisi ini.
flow yg simple utk difahami, tp pengolahannya tak kalah kreatif.
:-)

Sepetak Sajak

Kau tidak menyebut nama-Ku
kau menyebut namamu

(Gatoloco, Asmaradana, Goenawan Mohammad)

----

aku ingin mencintamu dengan membabi buta-
dengan sebotol racun yang diteguk Romeo
tanpa sangsi yang membuat kematiannya jadi puisi

aku ingin kau mencintaiku dengan membabi buta
dengan sebilah belati yang ditikamkan Juliet
ke dada sendiri yang membuatnya jadi abadi

(Aku Ingin, Autobiografi, Saut Situmorang)